Saturday, June 15, 2013

Personality Test is Bullshit Man!

Sekali waktu aku pernah melakukan tes kepribadian “personality plus” beramai – ramai dengan beberapa teman. Yap, hasilnya menunjukkan persentase tertinggi dengan sifat Melancholis, diikuti dengan koleris, plegmatis, dan terakhir sanguinis dengan persentase yang hampir merata untuk ketiga tipe sifat ini kecuali sangunis yang sangat kecil persentasenya. Kontan saja langsung aku sebagai lelaki dengan sifat melankolis menjadi bahan tertawaan teman – teman lainnya. Mereka bilang, “cowo kok melankolis, sering murung ya sendiri di kamar???” Bahkan lagu – lagu favorit ku yang beraliran classic rock juga terkena imbas, “wah memang bener tuh, org melankolis lagu – lagunya aja temanya banyak yang meratapi diri.” Sejak kapan lagu classic rock temanya ratapan cuy? coba lihat lagu - lagunya bon jovi? led zappelin? ini lagu balada kehidupan cuy! Begitulah pikiran yang tertanam secara umum terhadap sifat melankolis. Damn, they just don’t know what they’re talkin about.

Melankolis itu hanya satu dari 4 kategori sifat yang secara natural pasti ada dalam diri setiap orang. Sebenarnya aku tidak sependapat dengan pengkategorian sifat – sifat manusia hanya kedalam 4 tipe ini. Kecenderungan dari satu sifat itu memang selalu ada, tapi setiap manusia itu berbeda, aku tidak setuju bila diukur dengan persentase dan angka. We are human, the most complex creature in the world. Bahkan parahnya, personality plus sering menjadi acuan untuk menentukan atau men-judge sifat seseorang, terkadang tanpa melihat sisi baiknya. Bukankah Allah menciptakan setiap manusia itu berbeda satu sama lainnya, bahkan orang kembar siam sekalipun memiliki perbedaan dalam sidik jarinya. Aku rasa tak kan ada satupun pendekatan yang sempurna untuk menilai dan mengategorikan sifat – sifat manusia itu sendiri.

Memang yang paling umum digunakan adalah keempat sifat ini, cukup mewakili, apabila orang – orang mau memandangnya sebagai penilaian holistik, bukan hanya menilai dari sifat dominannya saja yang dideskripsikan secara satuan.

Contoh gampangnya seperti ini:  (m=melankolis; p=plegmatis; k=korelis; s=sanguinis)

Seseorang suka bekerja dengan teliti (m), suka menganalisis sifat – sifat seseorang entah itu dari gerak geriknya, maupun dari kebiasaannya (m), senang melihat dan mengawasi (p), bisa menjadi pendengar yang baik (m/p), suka menggunakan cara termudah dalam mengerjakan sesuatu(p), suka bersantai dan tempat penuh ketenangan (p), suka bereksplorasi dan bertualang ke alam (k), tenang dan tidak banyak omong (p), dan saebagainya......

Saking konsistennya jadi sering terbawa oleh pendapat yang dirasa sudah nyaman (m), kurang vokal menyampaikan pemikirannya yang dia yakin belum tentu benar (m), saking pentingnya hasil pekerjaan sering di cross check berulang kali (m), tidak suka melihat orang tidak bekerja sedangkan diri sendiri sedang bekerja keras dalam satu tim (k), emosi meledak – ledak melihat orang yang malas bekerja dalam tim (k), keras kepala dalam mempertahankan apa yang dianggapnya benar (k), dan banyak lagi.......

Hehehe.... sebenarnya itu hanya sedikt dari sifat – sifat ku sih.  Tapi coba dilihat, tidak ada yang benar – benar melankolis kan? Tidak mungkin seseorang 100% melankolis. Bahkan melihat gambaran diatas saja sifat – sifat ku cukup merata kan? yaaa kecuali sanguinis. Hehe entah ada di bagian mana sifat yang satu itu?

Aku berfikiran, karena sifat itu bisa diubah, dengan mengetahui bagian – bagian mana dari sifat buruk kita, kita bisa mengubahnya. Tentu dengan perjuangan berat. Hehe.. aku juga ingin sekali memunculkan sedikit sajalah sifat sanguinis. Aku selalu salut dengan orang yang punya banyak teman disana sini, aku anggap pasti pada bagian itu dirinya sanguinis. Tapi aku tidak suka dengan orang yang banyak omong dengan cerita yang tidak bermanfaat dan lelucon bodoh, terlalu berisik. Hehe maaf yaa? J

Kalau dalam tes kepribadian itu, sifat – sifat dijabarkan satu persatu. Melankolis dengan kriteria ini, ini, ini, blablabla...... korelis seperti ini blablabala.... kesalahan sebenarnya terletak di situ. Tidak jelas pada bagian mana sifatnya yang melankolis, korelis, plegmatis, atau sanguinis. Orang yang mengetahui secara sepihak akan mamandang secara parsial bahwa ooooo, si anu sifatnya seperti ini toohhh. Padahal yang mengetahui
sifat kita itu ya cuma kita sndiri kan? Mana ada orang yang seratus persen tau sifat kita yang sebenarnya, termasuk ibu kita. Kecuali Yang Maha Mengetahui tentunya.

Sekianlah pembahasan ini, mungkin takkan ada habisnya hal ini dibicarakan sampai kiamat nanti. Biarlah mau seperti apa anggapan orang. Yang tau dirimu ya hanya kau dan Tuhan. Itu sudah cukup.

Sunday, May 26, 2013

Pendidikan Tinggi - Saatnya Berbenah


Kepada seluruh seman – teman mahasiswa, para pejuang intelektual muda, tahukah kalian isu yang sedang berkembang tentang pendidikan tinggi kita? Aku harap kalian sudah lebih tau dari pada aku ya. Sebenarnya isu ini sudah cukup lama berkutat tiada habisnya. Diawali dari pengajuan judicial review oleh mahasiswa dari Sumatera barat yang memiliki anggapan bahwa UU No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi masih memiliki unsur komersialisasi universitas yang ujungnya akan membuat uang kuliah menjadi lebih mahal dan tidak terjangkau bagi rakyat menengah ke bawah.

Sedikit menelisik kebelakang tentang bagaimana keadaan pendidikan tinggi sebelum dikeluarkannya UU PT ini. Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT-BHMN) merupakan satu bentuk badan hukum Perguruan Tinggi di Indonesia yang telah dibentuk melalui PP Nomor 152-155 Tahun 2000 tentang pembentukan perguruan tinggi badan hukum milik negara (PT BHMN) yakni Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Institut Teknik Bandung (ITB), Univeritas Airlangga (Unair), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Sumatera Utara (USU). Pada tahun 2010 telah dihapuskan golongan perguruan tinggi BHMN atau badan hukum milik negara yang tujuan awalnya adalah untuk membantu perguruan tinggi memprivatisasi dirinya sejalan dengan dikeluarkannya UU BHP. UU BHP memberikana amanat bahwa penyeragaman lembaga pendidikan perlu dilakuakan, tidak hanya PT-BHMN diatas, namun seluruh aspek pendidikan hingga ke jenjang sekolah dasar. UU Badan hukum Pendidikan (BHP) yang umurnya sangat singkat ini di-ultra petitum oleh Mahkamah Konstitusi. “MK menilai, UU BHP bertentangan dengan UUD 1945 sehingga mengabulkan secara keseluruhan semua permohonan pemohon,” tegas Ketua MK Mahfud MD (31/3/2010). Amar keputusan MK antara lain:
  •           Tidak boleh menyeragamkan bentuk lembaga pendidikan
  •           Pemerintah tidak boleh lepas tanggung jawab keuangan terhadap lembaga pendidikan
  •           Tidak terjadi liberalisasi dan komersialisasi

Selama tidak adanya UU yang menaungi pendidikan tinggi selepas dimusnahkannya UU BHP ini, perguruan tinggi memakai aturan PP 154 yang umurnya hanya 3 tahun sejak ditetapkan yaitu pada bulan September 2010 dan akan segera berakhir di bulan September 2013, sementara itu UU PT sedang diperkarakan di MK yang tak kunjung terlihat adanya putusan.
Sebenarnya seperti apa UU PT itu? Apakah benar Undang – Undng ini masih bobrok sama dengan pendahulunya? Ataukah sebenarnya sudah sesuai UUD 1945, namun pengaju PK ke MK masih salah menginterpretasikannya?

Sebenarnya yang terutama dipermasalahkan yaitu adanya redaksi “Uang Kuliah Tunggal” atau UKT yang muncul dalam UU PT ini. Ada dua interpretasi yang muncul dalam redaksi ini. Pertama, uang kuliah disamaratakan nominalnya seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Kedua, penyebaran atau pendistribusian uang kuliah ke setiap semester tanpa adanya uang pangkal ketika mahasiswa pertama kali masuk perguruan tinggi.

Untuk kampusku sendiri, masalah ini sudah dari jauh hari terpecahkan. Sistem kami menganut pembagian standar uang kuliah menjadi 8 cluster. Pembagian ini dilakukan berdasarkan tingkat penghasilan orang tua. Dari kedelapan cluster ini akan terjadi sistem subsidi silang, dimana si kaya akan membayarkan jumlah uang kuliah lebih besar sesuai penghasilan orang tuanya, sedang kan yang kurang mampu membayar lebih sedikt. Namun, kekurangan pembayaran oleh orang yang kurang mampu akan disubsidi dari kelebihan pembayaran mahasiswa yang mampu tanpa adanya diskriminasi perlakuan apapun. Sistem ini menjadi role model untuk pembiayaan perguruan tinggi di Indonesia. Dengan adanya uang kuliah tunggal ini, IPB akan melaksanakan ketentuan tersebut dengan cara membagi rata nilai yang harus dibayarkan mahasiswa kedalam 8 semester, tanpa ada uang pangkal di tahun pertama yang notabene memberatkan mahasiswa di awal, sekaligus juga tetap menerapkan sistem 8 cluster subsidi silang yang sudah teruji sangat ampuh.

Sementara itu, melalui UU PT ini, pemerintah tidak bisa lepas tangan terhadap perguruan tinggi. Pemerintah akan menggelontorkan dana melalui Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) yang besarnya malah mencapai krang lebih 40 % dari kebutuhan dana perguruan tinggi. Jumlah tersebut terbilang sangat besar yang malah menjadi sumber dana terbesar bagi perguruan tinggi negeri, IPB contohnya. Hal ini juga memenuhi amar keputusan MK yang mengamanatkan bahwa pemerintah tidak boleh lepas tanggung jawab terhadap keuangan lembaga pendidikan.

Itulah sedikit gambaran permasalahan kampus saat ini, semoga saja para petinggi kampus kita selalu open mind terhadapa sesuatu yang baik, tidak selalu mempertahankan kebiasaan lama yang merugikan dengan alasan apapun. Begitu pula untuk mahasiswa sahabat – sahabaku, para pejuang intelektual. Kita harus lebih cerdas menafsirkan sesuatu, melihatnya dari berbagai sudut.

Semoga kita para pemuda - yang akan menglami demographic dividen terbesar, sementara itu negara – negara maju mengalami aging society - bisa terdidik dengan baik sampai ke jenjang perguruan tinggi. Inilah cita – cita kita untuk melejitkan bangsa kita yang sudah tertinggal cukup jauh dari bangsa lain.

Wednesday, May 22, 2013

Jalanan Setan


Sudah hampir 2 tahun penuh sejak menginjakkan kaki di kota hujan ini, tetapi kejengkelan itu sudah sejak lama meningkat menjadi rasa muak yang berlebihan. Tentang masalah apa sih sebenarnya? Kalau kita mau memperhatikan, mengamati, dan merasakan hal – hal kecil setiap harinya tentu kita akan mengerti, ini adalah persoalan sifat yang ditunjukkan masyarakat di jalanan ketika berkendara.

Seperti ini gambarannya, aku heran kenapa orang – orang disini memacu kendaraannya dengan kecepatan yang terbilang tinggi di jalanan ramai, ketika pagi hari, ketika disitu juga banyak pejalan kaki lalu – lalang?Pengamatan ini aku lakukan di daerah sekitar kampus. Aku tau, pasti banyak alasan yang melatarbelakangi hal itu. Ada yang bilang “biar ga terlambat kerja dek”, “jaraknya jauh, jadi bisa menghemat waktu dengan kecepatan tinggi”, “biar ga kejebak macet”. Iya memang, alasan mereka itu masuk akal, tapi apakah harus mengorbankan hak pengguna jalan lain, khususnya pejalan kaki? Kalau diamati lebih dalam lagi, kendaraan yang mereka pacu dengan kencang, seringkali tidak mengindahkan adanya pejalan kaki, atau motor yang hendak menyebrang jalan, sehingga ketika laju kendaraan di jalur utama yang cepat tidak bisa dibendung maka jadilah kami para pejalan kaki tertindas, sulit dan mengerikan untuk menyebrang pada kondisi seperti itu. Kenapa mereka sedikitpun tidak menghargai keberadaan pengguna jalan lain?

Lain halnya dengan angkot – angkot yang seperti tidak menghiraukan hal lain selain setoran dan ini sering kali membuat kepalaku panas. Musuh terbesar para pengguna sepeda motor adalah kendaraan ini. Kenapa? Karena mereka sering kali berhenti mendadak, tidak memminggirkan angkotnya, tetapi malah memberhentikannya di tengah jalan. Bahkan mungkin angkot adalah musuh terbesar setiap kendaraan lain yang ingin melintas ketika jalur mulai ramai di pagi hari atau sore hari. Urusan mereka menunggu pelanggan (ngetem) di simpang dan badan jalan tidak bisa dipungkiri lagi sebagai penyebab utama kemacetan. Sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah ketika yang ngetem hanya 2 atau 3 angkot saja, masalahnya volume angkot yang bertengger di badan jalan sudah melebihi batas kewajaran. Polisi pun sudah tidak mampu untuk menertibkan ke-dogolan otak para supir angkot itu untuk tidak ngetem di badan jalan. Untuk apa ditertibkan sebenarnya kalau tddak ada solusi yang bisa diberikan pada mereka?

Sialnya, jalanan bogor sebenarnya tidak mendukung keberadaan para angkot ini. Coba lihat saja lebar jalan yang hanya bisa dimuat untuk 2 lajur tetapi dipaksakan untuk diperlebar secara tanggung. Satu lajur lebarnya menjadi sekitar 1 ½ badan mobil. Maka jadilah penumpukan kendaraan yang tidak sabar untuk mengantri di kemacetan. Kebanyakan dari mereka yang tidak sabar, tidak menyadarinya bahwa menyalip kendaraan didepannya ketika macet, membuat lajur yang sempit menjadi tumpang tindih, malah akan memperparah kemacetan dan memperlama mereka untuk berada di jalanan. Miris sekali melihat orang yang mematuhi aturan, mengantri dibelakang dengan sabar, tetapi hak – haknyalah yang justru tergilas.

Fenomena ini tentu tidak hanya terjadi di kota bogor saja, ketertiban pengguna jalan yang terlampau lemah juga terjadi di kota – kota lain yang padat penduduknya. Dari sini sebenarnya dapat dilihat bagaimana sifat individualis, sifat egoisme telah merasuk ke dalam sel – sel terkecil masyarakat kita. Menghormati hak orang lain kan tindakan mulia kan? Iya kan? Tetapi kenapa kita sulit melakukannya? Masa para supir angkot hanya mementingkan kejar setoran saja sih? Bagaimana dengan orang lain yang yang kesal akibat perbuatannya membuat jalan menjadi macet? Apa para pengendara mobil dan motor yang lain tidak bisa memperlambat lajunya ketika melihat orang yang hendak menyebrang?

Mungkin aku melihat kota ini dengan perbandingan kota ku yang kecil, laju pergerakan masyarakatnya tidak secepat disini. Mamang salah juga.  Namun keadaan kotaku yang lebih banyak pengendara memacu kendaraannya dengan lambat, menikmati keadaan kota sambil berkendara, menghentikan laju kendaraannya ketika ada pejalan kaki yang ingin menyebrang, atau memberi kesempatan bagi yang ingin cepat untuk mendahului merka yang berjalan lambat. Sungguh damai bukan kota ku? Beda memang kondisi kotanya. Beda memang kebutuhannya akan mobilisasi. Tapi aku mengagumi sikap mereka yang arif ketika berada di jalanan. Tidak seperti pengeang ndara kelihatan terbirit - birit dikejar setan.

Yah, semoga saja ada pembaharuan yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini baik dari pemerintah, maupun masyarakatnya. Hidup Rakyat Indonesia!

Thursday, May 16, 2013

Indonesian's Epic Tetralogy (Part 1)

Siapa yang tidak kenal dengan Tetralogi Buru yang di bukukan dari tulisan maupun lisan oleh seorang maestro Indonesia, yap. Pramoedya Ananta Toer. Saya yakin sebenarnya masih banyak kalangan yang mengaku terpelajar tetapi tidak mengetahui karya besar anak bangsa ini.
Bahkan seharusnya, karya - karya beliau dijadikan bacaan wajib, setidaknya di sekolah menengah atas lah, seharusnya, buku - bukunya juga tersedia di setiap perpustakaan di negeri ini. Miris sekali rasanya, melihat kampusku tidak memiliki koleksi hasil karya beliau.

Selama 10 hari penuh, aku baru bisa menyelesaikan dua bukunya, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.




Bumi Manusia

Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana;biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput

Ceritanya berkisah pada seorang pemuda yang bernama Minke. Latar suasana yang dibangun dalam cerita ini yaitu pada tahun 1890-an, masa transisi abad 19 ke abad 20 di daerah Jawa, tepatnya Surabaya. Minke yang mendapat kesempatan bersekolah di HBS-sekolah belanda-karena ayahnya adalah seorang bupati di suatu daerah, menjadikan dia dekan dengan ilmu, tata cara, dan daya pikir orang – orang eropa. Saya tidak akan menceritakan dengan jelas siapa-siapa saja tokoh yang masuk dan keluar di dalam kisah seorang Minke ini. Bagian yang paling utama adalah kisah cintanya dengan seorang gadis, Annelies Mellema, peranakan dari bapak Belanda bernama Herman Mellema yang memiliki perusahaan pertanian Boerderij Buitenzorg dengan seorang Gundik yang bernama sanikem, atau lebih dikenal dengan Nyai ontosoroh.
Nyai Ontosoroh disini juga memainkan peranan penting, tidak berskolah namun memiliki pengetahuan yang begitu luas. Hanya seorang gundik namun mengenal kesopanan dan tata krama yang baik. Pemikirannya luar biasa untuk seorang wanita di zamannya. Disini Pram menggambarkan bahwa dengan belajar dan mencari ilmu dimanapun akan sangat berguna untuk mengubah nasib.

Kisah percintaan Annelies dan Minke terhalang ketika anak sah tuan Mellema meminta haknya sebagai anak yang ditinggalkan bersama
dengan ibunya di Netherland.
Sangat panjang dan sulit perjuangan yang harus ditempuh Minke dan sahabat-sahabatnya untuk mempertahankan Annelies yang harus dipisahkan dengan Minke ihwal perwalian yang diharuskan oleh hukum Netherland. Pram menuliskan kisah ini sangat jelas dan mendetail dengan gaya bahasanya yang khas, mendeskripsikan sesuatunya sampai sebenar-benarnya bagaikan saya hadir menyaksikan kesusahan yang dialami Annelies dan suaminya Minke.

Silahkan saja teman – teman membacanya. Entahlah, lebih baik menurut saya dibilang saja WAJIB DIBACA oleh setiap orang yang mengaku terpelajar. Tidak, tidak, ini seharusnya menjadi bacaan wajib setiap rakyat Indonesia. Biar mereka mengenal, dan mengenang, bahwa kehilangan seorang Pramoedya Ananta Toer, adalah kehilangan besar bagi Dunia.


Anak Semua Bangsa

Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas

Di buku kedua ini dicertakan tentang kepergian Annelies ke Netherland, hingga harus menghembuskan nafas terkhirnya disana, hanya beberapa hari setelah ia berlabuh.

Tak ayal hal itu sangat memukul Nyai dan Minke beserta para sahabatnya. Singkat cerita lagi, nyai dan Minke pergi ke kediaman nyai dulu sebelum ia dijadikan gundik. Disinilah pokok permasalahan pada buku ini. Minke harus menyadari bahwa ilmu yang dimiliknya hendaknya digunakan untuk membantu bangsanya sendiri. Minke sendiri telah banyak menulis di surat kabar dengan bahasa belanda, namun tidak pernah dengan bahasa bangsanya. Disini ia harus berjibaku dengan beragam pemikiran yang dari semua sisi menekannya untuk bisa melihat kenyataan bahwa bangsanya harus bisa hidup mandiri tanpa adanya campur tangan dari belanda. Banyak berkaca dari bangsa jepang yang telah disejajarkan dengan bangsa eropa, serta pemberontakan Jose Rizal kepada kolonial spanyol di daerahnya, Filipina.

Namun kisah mengenai dirinya dan keluarganya di Wonokromo belum juga terhapus benar. Anak sah Herman Mellema masih ingin untuk mengambil alih perusahaan yang telah di bangun oleh nyai selama ini. Persidangan tentang kematian Tuan Mellema pun tak kunjung selesai.

Buku ini menceritakan bahwa kondisi saat itu merupakan titik balik yang ditempuh oleh kalangan terpelajar bangsa untuk bisa berdiri sendiri, menghapuskan penjajahan dari bumi pertiwi, berdiri, dan menyejajarkan diri mereka dengan bangsa kulit putih yang selama ini telah merongrong 300 tahun.

Masih ada 2 buku lagi yang belum sempat aku baca. Semoga di kesempatan berikutnya, resume 2 buku epic tetralogy lainnya yaitu Jejak Langkah dan Rumah Kaca, bisa aku sajikan dengan lebih baik. Semoga timbul minat para pemuda bangsa ini untuk lebih rajin lagi membaca, mencermati karya – karya luar biasa anak-anak bangsa ini. Semoga karya yang ciptakan ini menjadi amal yang tiada putusnya bagi mu, Pramoedya Ananta Toer. Semoga damai disisi-Nya.
Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 – 30 April 2006) 

Saturday, April 13, 2013

Kebingungan Itu Tidak Puitis


Gambar, nada, dan kata
Sungguh sangat indah
Menelanmu bulat – bulat kedalam imagi
Tak menyisakan apa – apa
Apa yang mau kau lakukan?

Sebenarnya mau jadi apa?
Dokter, insinyur, musisi, seniman, penulis, atau pebisnis
Ataukah politisi?
Dirimu belum juga menjawab
Sebenarnya apa yang kau mau?

Sudahlah, pertempuran dalam kepalamu itu tak memakan korban jiwa
Tak juga bisa merebut kota roma
Atau merebut konstantinopel
Terserahlah
Lebih baik kau jalani saja

Tak apa bingung, bahkan aku bingung pada dirimu
Pasti nanti kau temukan sesuatu
Sesuatu yang memberikan mu baju
Akan jadi apa nanti
Kita lihat saja

Friday, April 12, 2013

Sampah di Belakang



Tulisan ini hanya mengisahkan kejadian hari ini yang sangat dalam memukul "my dumb-side".
semoga "dia" cepat mati.

Hari ini, 12 April 2013, hari terakhir ujian tengah semester di Departemenku TIN. Mata kuliah yang diujiankan adalah Manajemen Lingkungan Industri. Kalau dilihat dari nama matakuliahnya sudah terbayang pasti tipe – tipe mata kuliah seperti apa yang satu ini. Yep, entirely text dan kita harus bisa memahaminya (padahal yang dilakukan mahasiswa adalah mencoba menghapal). Jam 8 pagi tepat, ujian dimulai, lembar soal dibuka satu persatu sampai habis, zonk, sangat tidak diharapkan soal seperti ini yang keluar. Soal semacam ini lah yang bisa menghancurkan nilai. Soal ini bentuknya isian dan tentunya telah memiliki jawaban yang sangat pasti dan istilah ku menyebutnya tak dapat digoyang alias saklek. Perlu diketahui juga bahwa materi untuk periode UTS ini terbilang cukup banyak dan dengan tambahan ekstra pedas, hehe... maksudnya harus dengan tambahan usaha keras untuk bisa memahaminya karena semua materinya berbahasa inggris dengan istilah – istilah atau phrase yang lumayan tinggi.

Untuk hal seperti itu sebenarnya no excuse. Memang karena aku saja yang malas dan tidak mencicilnya dari awal dan sedikit masa bodoh dengan mata kuliah satu ini. Ya karena mindset yang terbentuk sebelumnya adalah hal terpenting itu pemahaman walaupun materi yang di serap tidak seutuhnya masuk, dengan sedikit logika dan nalar semua pertanyaan – pertanyaan essay munkin bisa dijawab dengan lantang dan lugas. Itulah indahnya bermain dengan kata – kata. (hahaha... mahasiswa macam apa kau ini????)

Oke, temen di sebelah ku sudah selesai sepertinya. Dia dengan tenang duduk dan melipat kedua tangannya di atas meja kemudian menundukkan kepalanya, aku pikir dia mencoba untuk tidur sejenak. Well, setengah pun dari soal belum terjawab dengan perasaan yakin di dada bahwa yang ku jawab itu akan di centang sebagai jawaban yang benar. Sekali lagi bahwa jawaban dari soal itu adalah jawaban pasti seperti  1 juta di kalikan nol hasilnya NOL = ZERO. Apa bloeh buat, akhirnya aku selesai mengisi tempat kosong di soal itu dalam waktu 67 menit. Entah apa yang aku isi di titik – titik mengesalkan itu. Yang pasti aku sadar hasilnya tentu sesuai dengan apa yang aku lakukan, sesuai dengan usaha yang aku lakukan untuk menghadapi ujian ini.

Kebetulan aku dapat kesempatan duduk di belakang hari ini, tidak ada niat untuk menyontek apapun dari teman sebelah atau di depan, lagipula dengan keterbatasan pengelihatan yang aku miliki, Allah SWT mengajarkanku agar tidak memperdulikan jawaban yang tertulis di kertas teman sebelahku saat ujian. Tidak mudah memang  duduk di tempat paling belakang, tepatnya di bagian sudut paling belakang seperti ini. Selama 90 menit waktu ujian berlangsung aku bisa melihat ekspresi setiap teman seperjuangan ku. Ada yang gelisah setengah mati, ada yang cuek, ada yang tersenyum bahagia karena apa yang dipelajarinya mungkin masuk di dalam soal – soal itu. Ada pula yang selalu menghela nafas dalam – dalam kemudian melepaskannya sehingga timbullah suara lepas dari dalam dadanya dan membuatku tersenyum sendiri ketika mendengarnya. Banyak yang melihat kelangit - langit, memejamkan mata, atau terpelongo mengharapkan jawaban jatuh di depan mata mereka. Padahal kalu ditelaah, setiap soal tadi tentu sudah ada jawabannya di dalam materi, dan aku sudah bisa membayangkan seperti apa seharusnya jawaban itu, kalau saja otakku bisa mengingatnya dalam satu malam pasti aku bisa mengerjakan 40 soal itu dalam waktu 15 menit, dan akan menyisakan 75 menit berharga yang pastinya bisa dinikmati ke relung sampai terdalam di hari terakhir UTS. Tapi itu hanyalah khayalan belaka.

Satu persatu teman – temanku meninggalkan ruangan, meskipun aku telah menyelesaikannya, aku tetap tidak mau beranjak dari tempat duduk karena memang aku ingin melihat apa yang terjadi sampai detik terakhir ujian ini. Beberapa teman melangkahkan kakinya dengan ringan untuk berdiri, tapi beberpa lagi sangat sulit sepertinya untuk beranjak. Memerlukan energi penuh untuk bisa berdiri dan mengantarkan naskah ujian itu. The last five minnutes, tersisa 3 orang lagi diruangan itu termasuk aku sebagai the big looser today. Sampai akhirnya kami dipaksa untuk meninggalkan ruangan. Dengan tersenyum aku keluar ruangan itu sambil menghela nafas. 

Sudahlah, tidak usah dibahas lagi, tulisan ini hanyalah sampah yang aku posting agar orang yang membacanya (kalaupun ada yang mau baca, hahaha) bisa mengambil pelajaran diari cerita ku (sekali lagi, kalaupun ada pelajaran itu). Yang terpenting sekarang adalah berdoa, semoga saja nilainya tidak begitu amblas, sehingga masih bisa menimbunnya lagi di periode UAS untuk mendapatkan nilai akhir yang memuaskan.

Let see how bad the mark is. Let see how hard should I take a blow to cover it. And let see the last mark I’ll get. Stay Optimistic!

Be Gone Laziness!


Pip pip Cheerio!

Monday, April 1, 2013

Kakak Ku


Nama belakang ku adalah Pratama. Bukan sebuah marga, hanyalah sebuah pertanda bahwa aku adalah seorang anak sulung dari 3 bersaudara. The Three Brothers, itulah nama persatuan yang kadang aku katakan kepada kedua adik laki – laki ku ketika kami berkumpul dan bercerita tentang banyak hal.

Tapi, dari mana judul ini bisa diangkat sedangkan aku tidak punya seorang kakak?

Mimpi di siang bolong mungkin bisa punya kakak. Adanya juga aku sebagai anak sulung selalu menjadi panutan adik – adikku di rumah. Segala kegiatan yang mereka lakukan di sekolah maupun di rumah tak lepas dari berkaca pada kegiatan ku. Syukurlah mereka selalu memandang setiap sisi baik yang bisa aku tonjolkan di rumah. Hasrat mereka untuk bisa melampaui capaianku harus ku acungi jempol dan harus terus aku dukung.

Dibalik itu semua, sebenarnya aku ingin sekali bisa memiliki seorang panutan.

Luar biasa memang,
Allah mempertemukan kita, cerita kita bertukar, pikiran tersinkronisasi, canda dan tawa pecah ketika bertemu...

Jelas aku tak bisa menahan kekagumanku pada mu kak. Karaktermu kuat. Analisismu tajam. Pikiranmu kritis. Extraordinary woman. Tetapi sifat ke-kakak-an mu terlalu kental dan tak bisa ku nafikan bahwa kau hanyalah seorang yang asing dan tiba – tiba masuk ke dalam hidupku. Memberi suntikan energi.

Tingginya hanya sekitar satu setengah meter kotor, dibalut dengan jilbab panjang anggunnya kemanapun pergi, dengan rok dan tampilan gaun seorang muslimah sejati, kau terlihat begitu lemah kak, apalagi badan mu yang kurus itu, membawa ransel berat berisi laptop kesayangan dan buku – buku entah untuk kuliah atau bacaan saja. Tapi tak kusangka, ternyata dia kuat, jalannya begitu cepat dan bersemangat seperti serdadu yang siap mati di garis depan. Tawa, canda, instruksi, perkataan, celotehan, nasihat , selalu keluar dengan intonasi yang jelas dan terlihat bahwa kau itu orang yang sangat cerdas. Berwawasan luas.

Bagaimana tidak kagum, SMP saja kau mungkin sudah menamatkan belasan judul buku, mungkin lebih. sedangkan aku? entah apa yang membuatku bisa tunduk pada rutinitas. pikiranmu kak, yang anti-mainstream itu lebih dari out of the box. That's remarkable and a little bit bothering me. bagaimana kau bisa seyakin itu dengan jalan pikiran mu?

Tak usah banyak berkata – kata lagi sepertinya, yang terpenting rasa hormatku pada mu ini, kekaguman ku, dan segala cerita yang kusampaikan padamu, membuatku merasakan, ohh.. sperti ini sensasi memiliki sosok seorang kakak. Seperti ini punya figur yang bisa dijadikan panutan, lecutan, untuk bisa lebih baik. Kakak ku, makasih banyak.

Sekarang kau bagian dari keluargaku, Hidupku. Selamat datang. J

Sunday, March 24, 2013

Blog yang Terlantar


Mungkin hanya kata maaf yang bisa aku sampaikan kepada blog ku ini seandainya dia hidup. Sudah 3 tahun aku meninggalkannya tanpa terisi satupun artikel. Bukan aku tidak mencoba untuk memulai mengisi sedikit demi sedikit di sini, tapi memang menuliskan kata - kata itu tak semudah yang dibayangkan. Lebih lagi karena dua tahun terakhir ku di SMA terasa benar - benar hambar. Sepertinya sulit untuk berfikir kreatif, sulit untuk melepaskan diri dari belenggu kedamaian kotaku. Memang sepertinya aku terjebak pada rutinitas anak remaja yang maunya hanya bersenang - senang. 

Aku harap inilah titik balik dari catatan masa lalu ku. Inilah catatan penghitungan-mundurku yang pertama, menggunakan dan memanfaatkan segala yang dititipkan Allah SWT kepada ku, agar sejarah, langkah, dan jejak, bisa terekam di sini.


Terimakasih banyak kepada teman - teman ku di IPB, departeman TIN angkatan 48 dan Fakultas merahku Fateta, keluarga ku di DPM TPB 48, serta keluargaku di DPM Fateta 2013, atas kesediannya mencabut belenggu kemalasan di leherku. Keluar dari zona nyaman sebagai nasihat pertama yang kuterima di sini adalah kalimat yang harus selalu aku camkan baik - baik.
Terkhusus pula kepada teman - teman ku yang secara diam – diam aku amati blognya, hehe.. :) Terimakasih atas inspirasinya. Kalian luar biasa. Membandingkannya dengan kehidupanku dulu di SMA, tenta aku pasti bukanlah apa - apa dihadapan kalian saat itu. Tapi inilah aku, saatnya untuk bergerak. 

Satu lagi, kepada kakak ku, orang yang menjebloskanku untuk terus membaca buku – buku, dan terus menuliskan rekam jejakku di blog. Meskipun kau tak pernah menyuruhku secara eksplisit, tapi membandingkan diriku dengan dirimu membuat darah ku sangat terpacu. Terimakasih banyak kak. Suatu hari nanti, aku akan mengalahkan wawasan mu yang sangat luas itu. Lihat saja :D

Bismillahirrahmanirrahim :)

Monday, October 4, 2010

Forgiveness, The Begining Of Unity.....

hmm...
semakin banyak bentrok yang terjadi di Indonesia tercinta.
kadang aku mempertanyakan, "Masih adakah jiwa persaudaraan kita???"
dan, "Ada apa dengan persatuan bangsa???"

Semuanya harus kita awali dari diri kita masing-masing...
Salah satunya yaitu memaafkan kesalahan orang lain.
Memaafkan seseorang sungguhlah sangat sulit di lakukan apabila orang tersebut telah sangat menyakiti perasaan kita dengan perbuatan atau pun perkataannya...

Tapi ketahuilah ikhwa, bila engkau tak memaafkan orang lain berarti engkau telah melampaui Allah. sedangkan Allah itu maha pemaaf dan maha pengampun bagi setiap makhluknya yang mau benar - benar bertaubat.

Nah... Dalam artikel kali ini saya akan menuliskan sedikit cara dalam mengikhlaskan diri untuk memaafkan orang lain...

pertama :
redam amarah dan kekecewaan ikhwa dengan berwudhu dan sholat. Dengan begitu, kita mepunyai modal untuk memaafkan orang lain.

kedua :
memang sulit untuk melupakan masalah yang terjadi, namun cobalah untuk mengingat apa saja yang pernah dilakukannya kepada kita, dan jangan sampai terlintas di pikiran kita untuk memutuskan tali silaturrahmi dengan dirinya.

ketiga :
cobalah ber-possitve thinking, mungkin sahabat kita sedang khilaf atau sedang bergurau(walaupun berlebihan)pada kita atau pun sedang ada masalah yang menimpanya. jadi, jangan terlalu cepat tersinggung dengan kelakuan sahabat kita.

keempat :
terimalah maafnya ketika ia meminta maaf baik secara langsung di depan kita atau pun tidak. bila sudah berulang kali terjadi, cobalah untuk menasihati dan memberikan pengertian tentang apa yang ikhwa rasakan.

kelima :
ikhlaslah memaafkan sebelum dia meminta maaf. karena hal itu jauh lebih baik daripada menyimpannya dalam hati sehingga tidak memberinya kesempatan tuk memperbaiki diri.

Itulah kelima poin yang bisa kita terapkan untuk memaafkan sahabat kita...
Bila sampai saat ini, masih ada orang yang belum termaafkan di hati kita, segralah maafkan, dan jalinlah kembali silaturrahmi yang mungkin terputus.

Mulai sekarang, bersegeralah meminta maaf, dan bersegeralah pula memaafkan. maka persatuan akan tertanam sempurna, persahabatan akan terukir abadi, serta Ukuah Islamiah akan berdiri dengan kokoh. Sesungguhnya memaafkan akan mendatangkan perubahan yang positif.

Sunday, May 23, 2010

AMATEUR

Assalamulaikum...

Heiiyy World, let me join you!!!!!
This is my first posting..

Baru aja nyoba nge blog kyaknya aku bakalan ketagihan nehh...
barangkali bisa buat nambah pengalaman n' yang terpenting, moga-moga aja bisa nambah penghasilan. Walaupun masih amatiran, paling gak, aku akan terus berikhtiar dan berdoa. Because, this is my simple life.