Saturday, February 1, 2014

Jawa-Bali Journey (haru)

7 hari kurang ataupun lebih berada bersama 24 jam tanpa henti di sekitar teman-teman mu seangkatan, bagaiman pendapatmu?

Lebih luar biasa daripada yang penah kau bayangkan sobat. Hal yang paling berkesan tentu dengan teman-teman di satu bus. Tak bisa di pungkiri kalau merekalah yang terdekat pada ku saat itu. Siang malam bersenda gurau bersama. Terkadang melantunkan lagu bersama-sama, menertawakan si anu, mengnejek si itu, ribut-ribut perkara yang tak penting, mendengar muntah temanku, melihat wajah yang kusut, ahh berjuta juta rasa dan mendalam kesannya.

Di malam hari sering aku terjaga, memandangi wajah kalian yang tertidur lelap. Polos. Mulut dan wajah tak terkontrol. Kadang mambuat ku tersenyum sendiri. Tapi dibalik itu aku selalu melihat bahwa tak pantas aku berbuat buruk pada teman temanku ini. Ada segudang kebaikan yang mereka bawa dan kerjakan bersama dengan jiwa mereka yang lelap di malam=malam perjalanan dalam bus itu.

Betapa sentimentil.



Apalagi dengan hal yang tak terduga satu ini. Aku bisa lebih dekat dengan salah satu sahabatku yang entah kenapa sedikit mengasingkan diri dari kehidupan di TIN 48 ini, yahhh... walaupun mungkin aku juga termasuk salahsatunya. Hehe...

Aku tak menyangka dia mau membukakan tabir pemikirannya kepadaku malam itu. Mengobrollah kami sampai larut, ditemani dengan sura dengkuran temanku yang entah dari mana sumbernya. Dia menjelaskan kenapa berprilaku seperti itu sehinggga dianggap temen satu angkatan dia orang yang paling aneh. Aku seringkali geram seandainya dia diperolok-olok, tidak hanya ketika dia jauh, bahkan ketika didepan matanya. Betapa tak bereperasaannya seseorang itu yang memperolok-olok. walaupun kadang mungkin aku juga termasuk orang yang ikut memproloknya, ikut tertawa ketika yang lain menertawakannya. Tapi aku tak sampai hati bila melihatnya menyendiri tak karuan apa yang dilakukannya, dianggap yang aneh aneh oleh teman sekelasnya.

Mungkin dimomen itu pulalah aku harus meminta maaf padanya. Di malam itu dia ceritakan segala galanya. (aku takkan menceritakannya disini). Pun aku menyampaikan segala pendapat yang mungkin sudah membuncah untuk dikeluarkan sejak lama padanya.

Hmmm akhirnya sobat, setelah ini,.. semoga inshaAllah ada perubahan pada masing-masing diri kita di semester berikutnya ya... aku tunggu. :D

sekian

Jawa-Bali Journey (untuk panitia)

Assalamualaium

Mungkin aku terksan egois sekali kalu merasa bosan dengan perjalanan panjang selama 7 hari Jawa-Bali ini. Tapi memang mau bagaimana lagi kalau seandainya aku tidak bisa menikmati indahnya petualangan dengan sistem liburan seperti ini. Untuk perjalanan dan kunjungan industrinya aku tau ini adalah kerja keras para panitia, aku sangat apresiasi sebesar mungkin, aku salut. Jangan hiraukan pendapat konyolku tentang perjalanan ini teman, karena sayang sekali aku tidak bisa menikmatinya dengan baik. Yaahh.. perbedaan selera memang tidak bisa dipaksakan ternyata.

Jauh jauh hari sebelum keberangkatan kami 21 Januari lalu, sekelompok teman-teman seangkatanku yang bersedia dengan lapang dada mendedikasikan dirinya sebagai panitia fieldtrip Jawa-Bali yang sudah biasa dilakukan departemen kami setiap tahunnya. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menyatukan seratusan kepala dalam hal bak itu dana keberangkatan, bahkan hingga tempat duduk di bus pun bisa diributkan. Pada awalnya aku juga termasuk sebagai anggota panitia ini, namun setelah di awal dengan kinerja yang setengah setengah akhirnya mungkin teman lain yang mengambil alih. Ya tak apalah, hanya maaf dan dukungan kepada kalian dari belakang yang selalu aku kuatkan.

Mungkin kalian sudah tau kalau kalian itu banyak dicemooh teman-teman yang lain yang tidak puas akan kerja kalian. Jujur, ingin sekali aku menebas kepala orang-orang seperti itu yang tidak bisa menghargai perkerjaan orang lain demi kemaslahatan bersama.


Aku sendiri sangat mengapresiasi segala macam hal yang kalian persiapkan demi keberlangsungan acara ini, entah itu mempersiapkan industrinya dari awal, menghubunginya, membuat persetujuan, mencari travel agen, konsumsi, yaaa mengurus segala galanya, pun ketegasan teman-teman panitia agar tidak terjadi kegagalan rundown diperjalanan sangat aku hargai sekali.

Aku tidak pernah kecewa sedikit pun akan kinerja kalian.

Tapi mohon maaf, aku tidak bisa menikmati acara fieldtrip ini. Bukannya aku tidak suka berada disekitar kalian, bahkan tidur berada disekitar kalian selama seminggu terasa sangat mengharukan sekali. Tapi jiwa ku ingin bebas berkeliaran di daerah yang kita lalui itu. Ingin bebas menjelajahi di tepian pantai, di tepian tebing, di sawah, di lahan terbuka, gunung, danau, dan tentunya Yogyakarta. Sayang sekali aku tak bisa meresapi tempat-tempat itu lebih lama, lebih dalam lagi.

Bukan soal fieldtrip teman-teman, tapi soal kesan pertama di injakan kaki pertama.

Seemoga kegoisanku dimaafkan

Wassalam

Friday, January 31, 2014

Jawa-Bali Journey (kilas singkat)

Assalamualaikum.

Tanggal 21 Jnauari yang lalu, aku bersama hampir seluruh teman seangkatan ku mengadakan fieldtrip sepanjang Jawa Bali. Menggunakan 3 bus berkapasitas 40an orang kami berangkat dari Kampus.
Tujuan sucinya ya memang untuk menggali seperti apa industri yang sebenarnya, tidak hanya dilihat dari teori yang selama 5 semester kebelakng itu kami pelajari. Jadilah kami berkunjung ke industri-industri sepanjang jawa bali, khsusunya industri agro tentu.

Sebenarnya aku kurang berminat untuk menuliskan disini seperti apa kondisi atau industri-industri yang kami kunjungi itu. Tapi tidak pantas juga kalau fieldtrip yang aku jalani tidak meninggalkan berkas ilmu di otakku. Padahal kalau mau mencari di internet tentang kegiatan di Industri ini atau menanyakan langsung ke emailnya juga bisa. Beda lah memang dengan melihat langsung kedalam pabriknya.

Industri yang pertama kami kunjungi adalah PT. Tirta Marta. Perusahaan ini memproduksi plastik yang dapat terdegradasi sendiri, beda dengan polimer plastik yang kita kenal sejak lama yang abadi mungkin sampai kiamat nanti. Hehe.. yap, kalo kalian membeli belanja di supermarket sekitar kampus pasti membawa plastik buatan mereka. Masih satu-satunya di Indonesia. Produk unggulannya Ecoplast dan Oxium. Ada tuh bedanya, cari sendiri lah yaa... hehe

Di industri kedua, PT Sidomuncul, kami terlmbat cukup lama. Pada akhirnya juga harus mengorbankan PT dua kelinci yang tidak jadi dikunjungi. Di Sidomuncul juga sangat tidak cukup untuk menikmati suasana pabriknya maupun argowisatanya, sudah kesorean. Akhirnya yaa... lanjut terus ke jawa timur.

Di jatim, Kelola Mina Laut berhasil membuat kami tercengang dengan pabriknya yang benar-benar steril walaupun padat karya. Luar biasa memang, tapi sepertinya KML sedang mengalami penurunan prduksi, ya sepertinya hanya dugaanku. Lebih lagi di PT. Nestle dengan segala benda robotiknya yang mampu membuat kami melongo melihat kecanggihannya, seperti pertunjukan Transformers.

Singkat cerita, menyebranglah kami ke Bali.

membosankan....

Di bali, ke PT. Sinar Sosro, yaa gitu-gitu aja.

Membosankan lagi di bali tidak bisa berpetualang sendiri, membeli barang-barang dan oleh-oleh secara serempak beramai-ramai sangat tidak seru broh.

Tapi setidaknya aku bisa menikmati kelapa muda di tepi pantai tanjung benoa sendirian, mengambil pasirnya, membawanya untuk oleh-oleh dan sebagian disimpan. Aneh ya? Hehe...


Apalagi di ulu watu, aku sangat terkesan dengan keelokan alam yang tersembunyi di sudut kiri yang tidak banyak diketahui orang karena memang dijaga ketat oleh pasukan wanara (monyet) hehe... banyak yang mengurungkan niat ke sana. Fotonya nantilah ya, masih sama temen. Hehe... maklum ga punya kamera.

Yogyakarta. :D
Akhirnya aku bisa nyanyi lagu Yogyakarta-kla project dengan sebenarnya berada di yogya. Kota ini luarbiasa. Seandainya bisa berpetualang lebih lama disini. Hehe... menjelajah mailioboro malam, kraton, dll sekitarnya.

Maafkanlah yaa tulisanku yang ga jelas ini.
Aku juga bingung dengan diriku di fieldtrip kemarin.

Maaf temen-temen
Wassalam... 

Saturday, January 18, 2014

Tekad

Assalamualaikum,

cukup telat sepertinya untuk merasakan bahwa aku sudah berada di bagian waktu yang lain, yang dalam pembilangan manusia yaitu peristiwa tahun baru. Rampungnya 365 hari durasi peredaran bumi terhadap matahari. Waktu pun sebenarnya tak perduli mau diberi nama apa, tapi karena manusia membutuhkan partisi dalam mengingat, menjalankan, maupun merencanakan setiap kegiatan-kegiatannya, maka waktu pun dinamai sedemikian rupa. Nah, kata seluruh manusia, aku sudah berada di dalam partisi ke 2014 sejak penanggalan matahari ini digunakan. So what?

Waktu pun berjalan terus, tanpa sedikitpun berhenti untuk menghela nafasnya. Menyelesaikan suatu amanah, mengemban amanah baru, menyelesaikan suatu pekerjaan, datanglah pekerjaan baru, menyelesaikan 365 hari, datanglah 365 hari berikutnya. sampai nanti waktu dibebastugaskan oleh Yang Maha Kuasa.

Satu tahun berlalu, tahun berikutnya menjelang. Orang-orang biasanya menuliskan resolusinya di awal tahun, atau paling tidak memikirkan mau apa atau mau mencapai apa di partisi satu tahunan ini. Sah-sah saja, semua orang berhak untuk bermimpi, yap, semua orang boleh memasang target.

Kenapa aku tidak?

Sulit sekali menceritakan kenapa aku enggan memikirkan targetan-targetan amisius yang biasanya tertulis dan dipajang didinding kamar, atau dibawa didalam dompet. Kenapa ya? Apa aku takut gagal?

Tidak. Aku hanya tidak suka cara-cara ambisius seperti itu. Ambisius biasanya aku kaitkan dengan interpretasi negatif dalam suatu proses pengejaran target. KBBI: ambisi: keinginan (hasrat, nafsu) yg besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (spt pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu. Interpretasinya kearah negatif, mencapai suatu keinginan (nafsu) dengan usaha keras (bisa jadi menghalalkan segala cara). Otak pun diprogram seperti mesin untuk mencapai targetan-targetan tersebut, tidak perduli bagaimana keadaan disekitarnya, atau dampak yang bisa menyertainya. Memang benar kata pepatah setiap ada kemauan maka disitu ada jalan. Kemauan = iktikad (tekad). KBBI tekad: kemauan (kehendak) yg pasti; kebulatan hati; iktikad

nah. that's the difference.

Aku hanya membutuhkan tekad di hati, menyambar setiap kesempatan yang ada dengan pertimbangan matang setiap dampak yang ditimbulkannya. Wah, pergi kemana jiwa mudamu nak? Entahlah mungkin itu zat paling volatil yang ada di jiwa atau jasadku.

Cita-cita? Ada tentu saja. Siapa yang tidak mau hidup bahagia dengan harta kekayaan yang melimpah, mudah beramal, dan mati, kemudian nyaman masuk surga? Semua orang mau. Apakah dibutuhkan ambisi untuk mencapainya?

Aku rasa hanya butuh tekad dalam setiap kesempatan.

Semoga setiap kebaikan yang kita harapkan di tahun ini dapat terwujud. Apabila belum? Maybe next time pals. :D hehe

Wassalam.

Friday, December 20, 2013

'Cause That’s What Friends are Supposed to Do

Sahabat, kita bertemu dalam suatu waktu, pun berpisah dalam waktu yang lain. Tapi di zaman sekarang ini kau tau sendiri kan tak ada yang mamapu memisahkan manusia dalam jarak. Jadi bukankah kita sepakat kalau takkan pernah ada kata perpisahan diantara kita?

Kalau bercerita tentang sahabat, sebenarnya aku sendiri sampai sekarang masih belum mengerti padanan aktifitas yang tepat dibalik 7 huruf sakral itu, sahabat. Apakah seorang sahabat adalah orang yang plaing mengerti diri kita, kita mengerti dirinya? Selalu ada disaat kita membutuhkan, dan kita pun selalu bersedia kala dia membutuhkan?

Seperti bait lirik lagu bruno mars yang sangat aku sukai ini, Count on Me.

You can count on me like 1 2 3, I’ll be there
And I know when I needed I can count on you
Like 4 3 2 and you’ll be there
Coz that’s what friends are supposed to do

Tapi aku rasa itu masih terlalu sempit. Bukankah ini semua urusan hati dan tulisan di bait tadi hanya menunjukkan keterkaitan jual dan beli pertolongan. Dalam jalinan persahabatan, sesungguhnya yang tertulis pada bait itu merupakan suatu tingkatan yang paling standar untuk dilakukan. Aku ingin menganalisis apa lagi sebenarnya yang mencirikan kuatnya suatu persahabatan, bukan hanya sekedar kepentingan saling butuh dan bantu saja yang terlihat sangat membosankan.

Berbagi
Tidak ada persahabatan yang masuk kedalam tingkatan pertautan hati yang kuat tanpa adanya saling berbagi kisah. Banyak hal yang biasanya dibicarakan, masa lalu, cita-cita masa depan, pemikiran, pendirian, dan berbagai macam cerita lainnya. Dari sinilah dimulai proses saling mengerti. Aku harus pintar menganalisis dirimu sahabat.

Pengertian
Dari segala cerita yang kita bagi bersama, aku akan dapat mengetahui apa yang kau butuhkan, apa yang kau inginkan, apa yang menjadi pendirian dan pemikiran mu, dan apa pula kisah masa lalu mu. Itulah dasar aku bersikap kepada mu sahabat. Aku akan mencoba sebisa mungkin untuk tidak melukai perasaan mu. Tapi kau juga harus mengerti segala perbuatanku yang tentunya tidak mungkin ada manusia yang benar-benar selaras, maka dari itu aku butuh dukungan mu dan juga tamparan keras dari mu.

Dukungan
Ingat sahabat, kau bukanlah diriku, dan aku juga bukan dirimu. Camkanlah bahwa kau tidak akan pernah bisa merubah aku, begitu pula diriku, kecuali Allah menghendaki. Jangan pernah bendung diriku apabila aku tidak sejalan dengan pemikiran mu. Dukunglah aku apabila aku masih berada dalam koridor yang benar. Dukunglah segala sepak terjangkau.

Tamparan
Sahabat, kau juga tau mana yang baik dan mana yang buruk. Aku juga manusia biasa dan aku tau aku tak mungkin berjuang sendiri. Aku butuh teguran mu, atau bahkan tamparan mu untuk mengingatkan ku kembali ke jalan yang lurus. Aku tidak akan marah, aku akan sangat senang mendapatkannya karena aku mengerti artinya kau peduli. Temanilah aku melaju di koridor yang benar itu.
Berikanlah aku nasihat karena aku membutuhkannya, berikanlah aku pertimbangan-pertimbangan agar aku bisa berfikir dalam menentukan sesuatu, berikanlah aku kritik yang membangun diriku menjadi lebih besar lagi. Berikanlah aku hal itu dan pastikan juga bahwa aku memberikan semua hal itu pada mu, sahabat.

If you forget how much you realy mean to me, every day I will remind you.


Tuesday, December 10, 2013

Membumi, Mendunia.

Siang tadi aku melintasi ruang dekanat fakultas sebelah kemudian memperhatikan dua kata itu yang dihubungkan dengan kata penghubung “dan”, tercetak rapi di dinding kaca lobinya. Tulisan tersebut benar-benar mentereng diantara ornamen ruangan lainnya sehingga mata manusia pasti tidak bisa melewatkan tulisan yang terpampang sombong berkilatan terkena cahaya lampu itu. Sebenarnya bukan baru pertama kali ini aku melihatnya, tapi entah kenapa kali ini terlihat begitu bermakna.

Aku sangat suka dengan visi dekanat sebelah itu. Rasanya, visi itulah yang saat ni dibutuhkan bangsaku. Interpretasi awam ku mengartikan frase tersebut sebagai pengangkatan drajat bangsa dengan segala sumberdayanya menuju tataran persaingan bangsa-bangsa di dunia. Down to the earth and go Internasionalized or Globalized. Sungguh suatu cerminan kebijakan yang sangat luar biasa, dimana kita, dengan segala kemampuan yang kita miliki, mendekat pada bumi pertiwi, membawa ruh garuda dengan jasad nusantara, bertarung penuh percaya diri di ring internasional.

Sayangnya, tahapan pertama yang harus dipenuhi yakni membumi belum lagi kita lakukan, sehingga kita pun belum mungkin untuk mendunia. Mungkin ini hanya anggapan ku saja, mungkin juga bisa diartikan sebagai keraguanku terhadap kemampuan anak bangsa, saudara-saudaraku sendiri. Tapi jelas aku melihat ketimpangan yang sangat besar antara mahasiswa, kaum intelektual, dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, belum pula dibandingkan dengan masyarakat di pelosok negeri ini. Jelas kita belum membumi.

Lihat Jepang, dengan kultur dan kebudayaan kuatnya mampu membawa bangsanya menjadi terkemuka di dunia, menjadi mendunia. Jepang juga tak lantas terjebak dalam kekolotan tradisi nenek moyangnya. Mereka juga melakukan adaptasi sehingga ilmu-ilmu modern barat dapat mereka kuasai dan mereka gunakan sebaik-baiknya untuk bangsa Jepang, meratakan penyerapan ilmu-ilmu ke setiap penjuru jepang, serta melakukan inovasi atas dasar kebutuhan masyarakatnya. Mereka itu telah membumi.

“Ibaratnya begini, jepang adalah tanahnya dan barat adalah benihnya, jadi walaupun yang tumbuh adalah pohon barat, tetapi pohon tadi telah memeiliki sifat-sifat khas jepang.” Kata Soe Hok Gie dalam script film garapan Riri Riza.

Mungkin tulisan ini bisa dianggap sebagai tulisan pengecut yang ingin melarikan diri dari Asean Economic Community 2015 dengan mencari-cari 1001 alasan. Terserah, tapi Indonesia bukan hanya milik orang-orang berilmu yang ambisius, Indonesia ini juga punya mereka yang di pelosok sana. Orang-orang ambisius itu, aku yakin sudah sangat siap, tapi mereka?

Aku jadi ingin semakin membumi, membawa amanah ilmu di perguruan tinggi negeri ini kembali kepada mereka yang memberi subsidi. Agroindustry down to earth.

Monday, December 9, 2013

Furin Kazan (Strategi Penaklukan Benteng-Yamamoto Kansuke)

Fu rin ka zan (Secepat angin, sebijak hutan, seganas api, dan seteguh gunung) 

Itulah semboyan yang selalu tertanam dalam otak setiap prajurit dan berkibar dalam panji-panji yang dituliskan dalam benang emas klan Takeda. Kecepatan serangan, kebijakan mengambil keputusan dan strategi, menyerang dengan sungguh – sungguh dan bertahan tak tergoyahkan. Inilah kisah luar biasa dari klan Takeda yang mampu menandingi Uesugi Kenshin Kagetora.

Seluruh kisah peperangan, ekspansi kekuasaan, dan penaklukan benteng ini berpusat pada diri sang ronin tua bernama Yamamoto Kansuke. Umurnya memang tak lagi muda, namun keahlian pedangnya tak bisa dianggap remeh. Satu yang paling luar biasa dari diri orang tua ini, kebijaksanaan dan visinya. Penaklukan benteng, mempertahankan jalur kekuasaan dan penerus klan, pengaturan strategi mulai dari pertempuran head to head sampai pengaturan psikologis di belakang layar.

Harunobu atau yang dikenal sebagai Shingen, panglima tertinggi klan Takeda ini juga sangat menghormati Kansuke. Pun aura kepemimpinan sang panglima juga sangat disanjung oleh kansuke. Bahkan kansuke merencanakan hingga keberlanjutan kekuasaan klan takeda, seperti pengaturan pernikan sang panglima sampai kampanye peperangan pertama anaknya, Katsuyori. Sangat aneh rasanya soarang yang sudah tua ini mampu mengatur banyak hal hingga ke detail-detail yang bahkan tak pernah terpikirkan pimpinan dan ahli strategi perang manapun. Abdinya pada sang panglima dan keluarga Takeda memang tak bisa digoyahkan.

Cita-citanya adalah mengalahkan Uesugi Kenshin Kagetora, sorang panglima perang berusia muda dari klan Echigo yang memiliki nama besar dan ditakuti oleh semua klan di zaman Sengoku Jidai. Peperangan yang mempertemukan mereka adalah salah satu pertempuran terbesar yaitu pertempuran Kawanakajima. Semua usahanya mendukung dan memenangkan setiap peperangan yang dilakukan oleh klan Takeda tak lain hanya untuk memenuhi hasrat dan ambisinya sebagai ahli strategi penakluk setiap benteng dan tentunya, ambisi untuk mengalahkan Uesugi Kenshin.

Ambisinya tak pernah termakan oleh usia. Inilah kisah sang Yamamoto Kansuke, sang ahli strategi penakluk benteng.

Saturday, November 23, 2013

Abstain

Sebagai orang yang mengerti arti pentingnya pemilihan pemimpin bagi organisasi ini aku paham aku harus memilih. Tapi sayangnya, aku memilih untuk abstain.


Orang abstain juga punya banyak alasan sebenarnya untuk tidak memilih calon yang ada.
Abstain beda dengan golput yang memang pada dasarnya sudah berencana untuk tidak hadir dalam pemungutan suara. Tapi apalah bedanya antara abstain dengan golput ketika dia sama-sama tidak memberikan suaranya untuk keterpilihan calon yang ada sebagai pemimpinnya? (disini keraguan ku untuk memilih abstain)

Alasan aku memilih abstain sebenarnya sangat egois. Sudah aku coba untuk menimbang-nimbang dari kedua pasang calon yang maju, mana yang akan aku pilih. Pun jelas sebenarnya kecenderungan pilihan itu kearah mana. Tapi masih belum cukup, ada banyak hal yang mengganjal di hati ku, banyak kritik ingin aku sampaikan sebenarnya dalam proses politik yang di jalankan oleh si calon yang akan aku pilih ini.

Tidak usahlah membahas calon yang satu lagi itu, sudah dari awal mengikuti jalannya pemilihan presiden ini aku tidak pernah menaruh simpati sedikitpun padanya. Even my brother can do bettter than him.

Yah, tapi ego ku belum bisa untuk menerima si calon yang potenisal itu. Dalam pandangan ku, orang seperti dia memang cakap dalam memimpin, punya visi yang jelas, dan bermoral yang sangat pas dijadikan sebagai contoh. Tapi ada yang kurang. Dia terlalu eksklusif, tidak down to earth, seharusnya seorang pemimpin bisa dekat pada setiap warna, hitam atau pun putih. Jika sudah berani maju sebagai pemimpin, maka dia sudah bukan berada dalam warnanya lagi, bukan hitam atau pun putih. Dia sudah berada di dalam koridor abu-abu yang harus bisa menampung setiap golongan. Dia bukan lagi milik golongannya, maka sudah sewajarnya lah dia sebelum melanjutkan niatnya sebagai calon pemimpin, dukungan harus ada juga dari kedua golongan tersebut, politik yang sehat. Bukan berarti dia harus menghilangkan jati dirinya. Bahkan jati dirinya lah yang harus bisa mengakomodasi kedua golongan itu sebagai warna khasnya.

Pada pemilihan raya sebelumnya, aku juga hampir saja melakukan hal yang sama untuk abstain. Tapi aku menaruh harapan pada pemimpin yang satu itu meskipun akhirnya dia tidak terpilih. Memang tim suksesnya adalah orang-orang yang bisa aku bilang sebagai perusak citra sang calon pemipin yang dibelanya. Aku tau, kepentingan dibalik timnyalah yang sebenarnya lebih rusak dan kotor, tapi tetap, aku menaruh harapan pada orang itu.
Meskipun suara ku tidak ada pada sang pemimpin yang menang, tatapi semua pertanyaan keraguanku terjawab olehnya. Dalam kerjanya selama setahun kurang yang aku rasa jauh melampaui ekspektasi banyak orang termasuk aku, dia telah membuktikan sosok pemimpin yang murni, pemimpin yang milik siapapun, pemimpin yang down to earth. Respect total buat dirinya.

Berbeda dengan tahun ini.

Secara umum yang ingin aku kritisi sebenarnya bukan hanya dia (calon pemimpin unggulan 2013), tetapi orang-orang yang ada di belakangnya juga. Mereka sebenarnya sudah sangat sempurna dalam kuatnya persahabatan diantara mereka, bisalah aku sebut sebagai kaum putih. Tetapi tidak pernah mencoba untuk mulai memahami apa saja yang menjadi penyebab mereka jauh dari kaum hitam, yang aku gambarkan sebagai orang yang selengehan, ilmu agama yang carut marut, penganut kebebasan dan sebagainya. Kental sekali sebenarnya nuansa permusuhan yang coba ditunjukkan oleh mereka. Cenderung menjauhi si kaum hitam, maka timbulah pelebaran gap itu.
Baiklah,  memang si kaum hitam itu pula mencoba mengasingkan diri terhadap si kaum putih. Tidak membuka diri dan pikiran serta terjebak dalam kebodohan yang mereka lakukan. Tapi apakah pantas bila si kaum putih untuk mejudge bahwa merka itu musuh? Memang tak terlontar dalam kata-kata, bahkan dari pandangan mata dan gerak-gerik saja aku tahu bahwa mereka jijik berdekatan dengan orang-orang seperti itu. Entah karena ada gap dalam penampilan ataukah karena perbedaan yang jauh dalam moral dan kelakuan. Tapi sekali lagi, apakah hal itu pantas dijadikan alasan?

Banyak sebenarnya yang mau aku ceritakan di sini, semua kebingungan-kebingungan yang aku alami. Keheranan yang tiada habisnya. 
Aku punya banyak teman dari kaum putih yang aku sebutkan tadi, banyak pula dari mereka yang care, membuka diri, bersahabat dengan kaum hitam juga, namun tidak pernah bermasalah. Begitu juga dengan teman-temanku si kaum hitam, memang mereka itu sulit untuk berubah dan benar-benar menganut kebebasan, tapi mereka tetap teman ku. Selama persahabatanku terjalin dengan mereka, tidak ada masalah yang berarti. Mereka tetap menghormati ku kalau mau beribadah. Bahkan mereka lah yang selalu bersedia mengajukan diri untuk membela ku (dalam hal kekerasan... hehe tidak usahlah berkelahi).

tapi seperti itulah adanya.

Sebenarnya memang terlalu egois menginginkan sosok pemimpin yang serba sempurna menurut pandangan subjektifku saja. Padahal aku tau semua orang itu tidak sempurna, apabila berfokus pada kekurangannya maka hanya itulah yang akan terlihat. Yah, semoga dia mampu membuktikannya, dan menjawab keraguanku ini, seperti terjawabnya keraguan ku pada presiden yang akan segera lengser tahun ini.

semoga saja.

Monday, November 18, 2013

Stones into School

Dari batu-batuan menjadi sekolah. Apa yang ada difikiran para pembaca ketika mendengar kalimat seperti itu? Mungkin proses pembuatan sekolah? Yaa...hampir mendekati lah ya. Hanya saja sekolah-sekolah yang didirikan itu berada di atap dunia. apa lagi itu atap dunia?

Greg Mortenson, seorang humanis yang memiliki kekuatan humanis itu dari ayahnya, mencoba menerjang sesuatu yang kita bisa bilang itu hampir tidak mungkin. Bagaimana bisa seseorang Amerika, pencinta hiking, bertubuh besar dengan muka lucunya berhasil membangun jaringan pendidikan pada wanita-wanita muslim di daerah-daerah yang luar biasa tak terjangkau? Berada di sudut bumi, katanya. Bahkan berada di atap dunia, disebutnya.


Buku ini adalah suatu sekuel yang dimulai dari buku “Three Cups of Tea”. Perjalanan Greg di buku ini sudah mencapai tataran yang luar biasa menakjubkan. Apakah kau pernah mendengar nama Celah Khyber? Lembah Charpurson? Koridor Wakhan? Bozai Gumbaz? Itulah daerah-daerah yang bahkan tidak diakui oleh negaranya sendiri. Bagaimana keadaan masyarakat yang tinggal di sana?

Daerah-daerah itu berada di sekitar perbatasan afghanistan dan pakistan, dan bagian perbatasan afghanistan-tajikistan. Bisakah kalian membayangkan daerah-daerah seperti apa itu? Daerah-daerah itu bahkan tak tertembus oleh alat transportasi modern apapun yang dimiliki manusia. Belum lagi hal yang berkaitan dengan Thaliban dan kesewenang-wengannya, pembantaian yang dilakukannya, penjarahan,. Sekali lagi, bagai mana keadaan masyarakat yang tinggal di sana?

Di buku ini dicertiakan betama mereka, anak-anak, wanita, pria, menginginkan suatu perubahan. Perubahan yang diawali oleh masuknya ilmu pengetahuan. Mereka sangat menginginkan hal tersebut. Tapi bagaimana mau mendirikan sekolah apabila bahan bangunan saja sulit sekali untuk masuk. Tidak usahlah dulu berbicara tentang bahan bangunan serta guru, bahkan pemerintah mereka sendiri saja tidak tau ada kehidupan di sana. Bukankah itu hal yang menyakitkan, tidak dianggap oleh dan diperhatikan oleh negaramu sendiri.

Dialah Greg, yang ditakdirkan menjadi penyalur hasrat mereka pada ilmu pengetahuan. Dia menghimpun dana dari masyarakat dunia, dipercaya atas keberhasilannya membangun sekolah-sekolah di pakistan, sekarang mulai melebarkan sayapnya menuju Afghanistan. Tentu tidaklah mudah apa yang dilakukannya. Bantuan dari sahabat-sahabatnya seperti Sarfraz Khan teman baiknya, Wohid Khan, Haji Ali gurunya di pakisatan, Abdul Rashid Khan sang pemimpin suku Kirghiz yang menginginkan daerahnya di Koridor Wakhan untuk didirikan sebuah sekolah, dan banyak lagi orang-orang mulia yang mengabdikan dirinya untuk pendidikan masyarat di sudut bumi itu.

Petualangannya bersama orang-orang luar biasa itu begitu indah untuk dibayangkan sebagai petualangan penantang maut yang bertujuan mulia, demi anak-anak yang kekurangan hak pendidikan mereka.
-THE LAST BEST PLACE-

Musso. Si Merah di Simpang Republik

Kami sadar bahwa kami bukan sejarawan. Kami bekerja tidak dengan perangkat metodologi yang kakau, melainkan dalam semacam permainan keseimbangan. Kami mempertimbangan ketepatan data, kepatuhan tenggat, dan keinginan mengangkat pesona sejarah ke permukaan”

Itulah sepenggal testimoni yang ditulisakan Redaktur Eksekutif majalah TEMPO ini dalam kata pengantarnya. Buku berbau ilmu jurnalistik investigasi yang dipadukan dengan hasrat pengungkapan sejarah menjadi sangat apik apabila dibahas dengan lugas dan dalam takaran yang pas. Kita tau selama ini banyak sekali hal yang berkaitan dengan peristiwa infiltrasi komunisme Indonesia yang telah dikubur dalam-dalam oleh pemerintahan Orde baru. Mungkin paham ini bagi mereka dianggap semacam Rahwana yang memiliki ajian Pancasona.

Munawar Muso, lahir pada tahun 1987 di kabupaten kediri Jawa timur. Musso yang sejak remaja telah aktif di sarekat Islam hingga pada saat umurnya cukup matang, ia masuk ke dalam Hotel prodeo Belanda. Menjadi anggota PKI, dimasukkan lagi ke dalam Hotel Prodeo yang setia menantinya. Perlawanan-perlawanan yang di lakukannya terhadap belanda bukanlah tanpa perncanaan. kehadirannya dalam  forum-forum internasional, rencananya untuk menemui Stalin untuk persetujuannya atas aksi pemberontakan PKI di Indonesia pada masa akhir penjajahan belanda membuat beliau menjadi tokoh PKI yang sangat disegani.
Licinnya pergerakan Musso dalam meloloskan diri dari setiap pemberontakan yang dilakukannya, baik perkelanaannya ke luar negeri hingga penggalangan diplomasi dengan Uni Soviet pun dilakukannya.

Pasca kemerdekaan Indonesia, Musso, sebagai  perumus “Jalan Baru untuk Republik Indonesia” telah mengubah haluan politik komunis Indonesia. Musso mengaggap pergerakan komunis Indonesia saat itu masih terlalu lembek. Menurut Musso, revolusi Indoensia bukanlah revolusi proletariat, melainkan revolusi borjuis, sehingga harus ada front yang dipimpin orang-orang proletariat.

Langsung saja kita lompat ke akhir perjalanannya. Peristiwa Madium meletus, operasi penumpasan pemberontakan hanya dilakukan dalam semalam. Hampir 200 simpatisan serta tokoh PKI ditangkap, pers yang berafiliasi dengan PKI dibredel. Banyak yang mengungkapkan bahwa aksi yang dilancarkan di Madiun tersebut begitu belum matangnya, sehingga mampu di sapu bersih dalam waktu singkat. Dalam waktu dua pekan tentara yang dipimpin oleh Panglima besar jendral Soedirman mampu kembali menguasai Madiun.
Maka berakhirlah cerita petualangan Musso. Ditembak mati oleh tentara yang memburunya di Ponorogo. Syahdan, membawa kesengsaraan lain bagi ribuan anggota partai Komunis Indonesia, ditangkp, dibui, bahkan para elitnya dieksekusi mati.

*Mencoba meresume buku yang telah lama dibaca, cukup sulit tanpa membolak-balik halamannya lagi, memilah-milah mana inti utama ceritanya. Sulit. Hehe... (setidaknya 1 janji telah terpenuhi)