Saturday, November 2, 2013

Sendiri?

"Dulu di perut Ibu sendiri, nanti mati juga sendirian, jadi hidup ini pun sebenarnya harus ditempuh sendirian."


Kalimat itu hadir dari seorang teman, mengatakan pada ku untuk mencamkannya. Dahulunya aku pikir itu tidak akan berlaku. Entah terlalu naif atau apa, tapi aku percaya manusia itu makhluk sosial. Tak bisa lepas dari pertolongan sesama. Ternyata pikiranku memang tidak salah, tetapi kata2nya juga benar. Aku pikir kedua premis ini saling melengkapi. Hidup sendiri bukan berarti tanpa pertolongan orang lain, bersosialisasi dan tolong-menolong tak lantas mengabaikan kewajiban serta hak-hak pribadi.

Aku mendapatkan pelajaran berharga beberapa hari ini.

Tak usah terlalu berharap pada orang lain, termasuk sahabat sendiri. Khususnya yang menyangkut persoalan pribadi. Kalau ada yang membantu tentu bersyukurlah pada yang Maha Menguasai hati karena menggerakkan sahabat kita itu untuk membantu. Tak lupa berterimakasih pada sang sahabat. Jika tidak, seharusnya kita bisa berjuang sendiri, seharusnya kita juga bisa hidup sendirian. Jangan pernah menyalahkan orang yang tidak bersedia membantu kita, sekali lagi, jangan terlalu berharap pada bantuan orang lain. Berharaplah pada Yang Maha Kuasa, karena Dialah yang menguasai segala sesuatunya. Jika Dia mengizinkan seseorang untuk membantu kita, maka tanpa diminta pun pasti ada saja bantuan dariNya.

Hal yang terpenting adalah menjemput pertolongan itu. Banyak-banyak menolong orang lain dan berdoa. Sepertinya itu, aku tak tau lagi hal yang lain selain itu.


An here I go again on my own
Goin down the only road Ive ever known,
Like a drifter I was born to walk alone
An Ive made up my mind
I aint wasting no more time - Whitesnake 
(Here I go Again-1987)

Bogor, 2 November 00.00
*baru di posting pagi-ga punya koneksi

Tuesday, October 15, 2013

Dimas & Raihan

Assalamu’alaikum

Selamat pagi adek-adek ku. Aku yakin kalian masih tertidur pulas saat ini (atau tidak). Aku tak tau kenapa aku bangun sepagi ini dan sesemangat ini. Jujur, sambil qiyamul lail tadi, aku tak kuat menahan rindu dengan kalian. Tak seperti biasanya ya memang, kan aku lebih sering cuek pada kalian, jarang sekali kita sms-an, bahkan kalau kita berjumpa di duia maya pun begitu jarangnya kita chattingan. Paling kalau aku sempat menelpon umi atau umi menelpon terlebih dahulu kita bisa saling mengobrol. Itu pun aku rasa sering ada yang kurang. Yah... kurang, kita tak bisa bercanda seperti kita benar-benar bertatap muka. Bergelut sesuka kita di rumah saat dulu kita masih kecil-kecil.

Abang sudah jauh di bogor, Buya pun jauh di Samarinda. Tapi aku yakin kita tetap satu. Bukankah buya selalu mengajarkan pada kita bahwa kita bersaudara, selalu harus saling mendukung dan melindungi? Kalau ada satu diantara kita dipukul, kita pasti akan membalasnya 3 kali lebih keras bukan? Karena kita 3 bersaudara yang tak bisa dilepaskan satu sama lain.

Belakangan, abang sering memperhatikan perkembangan kalian. Dimas sudah menjadi ketua Osis di SMA yang dulu pernah abang cintai. Teringat kala itu aku belum jadi apa-apa. Sampai lulus pun tak meninggalkan jejak apa-apa. Siapa guru disana yang tidak mengenal kau dek? Hehe... beda sekali dengan abang mu ini. Dimas adek ku, secara sifat alami, kita berdua sangat bertolak belakang kata umi. Abang rasa mungkin benar. Kau memang lebih ambisus dibandingkan abang. Aku pun sudah tau sejak dahulu bahwa kau lah yang paling jenius diantara kita bertiga. Namun kau juga yang paling keras kepala bukan? Hehe. Tak apa, semua orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tergantung orang itu mau melahat apakah kekurangannya adalah kekurangannya. Jangan terpengaruh kalau aku bilang itu kekurangan mu, kalau kau merasa itu juga kelebihanmu maka asahlah.

Adikku Raihan, aku tau secara emosional kita benar-benar sangat dekat ya dek. Aku selalu bertindak kekanak-kanakan kalau aku bersamamu. Sampai sekarang kan? Aku suka kerjaan gila kita bermain-main dirumah seperti anak kecil. Padahal umur abang sudah kepala 2 dan kau sudah bukan anak kecil lagi. Kau anak bungsu yang manja. Memang seperti itulah katanya sifat anak bungsu. Kau tau, aku iri dengan posturmu yang tegap berisi itu. Badanmu sehat dan secara fisik berpotensi paling kuat diantara kita bertiga. Aku membayangkanmu seperti sosok Umar r.a kala kau besar nanti. Olahragalah di bidang yang kau sukai dek. Tak usah perdulikan orang lain yang memberikan saran. Jangan contoh abangmu ini yang tak punya keahlian olahraga apapun. Akademikmu juga selalu bagus, bahkan abangpun tak bisa menandingi rekord mu. Selalu menjadi pemimpin di setiap kondisi. Aku suka sekali ketika mendengar cerita dari umi bahwa kau memprotes nilaimu pada guru mu yang semena-mena itu ya dek? Hajar... abang mendukungmu. J

Kalian berdua telah menjadi apa yang kalian bisa, disaat ketika umur abang sama seperti kalian, abang belum berbuat apa-apa.
Ambillah yang baik dari abangmu ini, buang jauh-jauh yang jelek.
Carilah jati diri kalian, jangan tiru apa yang ada di abang semuanya. Jika kalian suka menggambar, lakukanlah karena kalian benar-benar suka. Jika kalian suka main gitar, lakukanlah karena kalian memang suka. Lakukanlah apapun selama itu dalam koridor Agama yang tentunya kita bertiga paham lah ya?
Kalau Buya dan abang mendorong kalian untuk membaca, janganlah merasa itu sebuah tekanan. Kalian akan tau betapa besar manfaat yang akan kalian dapatkan nantinya kalau mau rajin membaca sedini mungkin. Jangan sampai menyesal seperti aku. Kalau kalian suka, carilah bacaan yang kalian mau. Abang siap membelikan buku-buku yang kalian inginkan, karena abnag tau fasilitas di dareah kita sangat tidak cukup buat kalian yang jauh diatas rata-rata teman sebaya kalian. Ohiya, sering-seringlah keperpustakaan daerah ya. Walaupun koleksinya sedikit, tapi lumayanlah.

Ya Allah, jadikanlah adik-adikku sebagai Muslim yang bijak, cerdas, dan kuat.
Lisan mereka baik, perangai mereka pun baik, layaknya Muhammad SAW.
Ya Allah, biarkan aku jadi pijakan kaki adik-adikku sehingga mereka bisa terbang tinggi menggapai mimpi-mimpinya.
Sekarang pun mereka telah berda jauh diatas, aku siap dan  harus melecutkan mereka lebih tinggi lagi.
Ya Allah, sayangi dan bimbing mereka di jalan-Mu.
Menjadi pembela Agama, dengan apa yang mereka punya.
Ya Allah, sampaikanlah salam rinduku pada mereka.

Aku suka gambar ini :)

Bogor, 10 Dzulhijjah 1434, 03.00 am
Disela-sela takbir yang berkumadang.

*kalian pasti tertawa melihat raut muka ku sekarang seandainya kalian bisa lihat. hehe

Sunday, September 29, 2013

Itu Saja

Warna di gelap dan terang
Sama saja
Ah... apa aku buta warna?

Terkadang aku bisa melayang
Meski kaki tetap lekat di bumi
Aku tak tau sedang di mana

Mata ini pembohong
Tertutuplah ia maka...
Si otak ikut berbohong

Tolong aku sobat
Pukul saja mata ku sampai biram

Aku sudah tak percaya lagi
Pada gelap dan terang

Tak mau terbang,
Ingin ku berlari terpejam

Karna aku ingin kejar
Suara indahnya

Itu saja

Sunday, September 22, 2013

Untuk 24 September

Tau ada agenda apa di tgl 24 September? Mungkin hanya sangat kecil seprti atom ukuran jumlah manusia di Indonesia ini yang tahu. Pun begitu di pusat pengembangan disiplin ilmunya. Yah, di sini, di kampus pertanian, kenyataan pahit memang terpampang jelas. Bahwa ada sesuatu yang salah, ntah itu dari mana atau apa aku tak tau. Bukankah harusnya tanggal ini menjadi salah satu tanggal penting di kampus ini?

Oke, tanggal 24 September itu adalah Peringatan Hari Tani. Tanggal 24 September dipilih untuk memperingati tanggal keluarnya UU Pokok Agraria tahun 1960 yang menandai tentang betapa pentingnya peran petani. Sudah selama itu UU pokok agraria dikeluarkan, maka timbulah pertanyaan, sudah sejauh apakah petani kita tersejahterakan?

Kebijakan pemerintah setelah selama kurun waktu 7 dekade sejak ditetapkannya UU Pokok Agraria itu pun belum memberikan dampak yang positif bagi para pejuang kehidupan kita, para petani. Bahkan sejak mengakarnya kapitalisme dan liberalisme di bumi pertiwi ini, maka makin terperosoklah mereka kedalam lumpur sawah yang mereka ingin jadikan sumber penghidupan. Para petani hanya menjadi buruh di atas tanah nenek moyangnya. Yang berkuasa adalah para tuan tanah. Tidak cukup sampai di situ, harga pupuk, pestisida, dan bibit yang mahal tak sebanding dengan hasil yang akan mereka peroleh. Subsidi dari pemerintah tidak cukup besar untuk meringankan beban mereka, sedangkan harga hasil pertanian di pasaran begitu rendahnya. Gambaran bahwa pemerintah masih enggan melirik pada penyejahteraan rakyatnya, kebodohannya yang tidak taktis dalam investasi jangka panjang dengan keunggulan alamiah bangsa kita, atau bahkan hal ini terjadi karena para pejabat itu sudah menjual harga diri bangsa pada pemegang modal? Dan pemberi hutang pada negara kita yang toh nantinya diberatkan juga ke rakyat?

wahai bapak ibuku yang bersedih. Bersabarlah pak, bu. Aku tak tau kalian harus bersabar sampai kapan. Kalau kalian mau, mogok saja setahun. Cari penghidupan yang lain, tanam saja apapun untuk diri kalian, jangan dijual kemana - mana. Biar kami tau rasa betapa pentingnya keberadaan dan pekerjaan mu itu. Biar kami mengerti bahwa memang uang yang kami genggam ini tak bisa di makan.

Kenyataan pahit lagi, bahwa di kampus ku ini masih banyak teman – teman yang tau dan tak mau tau akan hari tani. Tidak usah lah pikirkan hari taninya. Yang lebih penting bukanlah tanggalnya tetapi para petani sesungguhnya. Bagaimana mungkin kita mahasiswa pertanian bisa melupakan mereka?
Apakah pelajaran yang kita terima ini terlalu berbau kapitalis dan liberal? Segala – galanya seperti bertuhankan modal, berorientasi terhadap keuntungan, menyerah pada mekanisme pasar. Dengan memperhalus kata – katanya menjadi nilai tambah produk, membeli komoditas dengan harga murah dari petani, memprosesnya atau dikatakan memberi nilai tambah pada komoditas, kemudian menjualnya dalam bentuk produk yang baik dan memiliki margin keutungan. Baiklah itu memang tidak dilarang, itu adalah suatu yang baik juga, apalagi mampu membuka lapangan pekerjaan baru. Tapi ketika bicara keterkaitannya tentang ketamakan manusia maka akan menjadi lain soal. Apakah akan ada rasa cukup bagimu meraup keuntungan – keuntungan itu? Aku rasa tidak. Kenapa tidak kau kembalikan lagi apa yang kau peroleh untuk kesejahteraan petani yang telah menyediakanmu bahan baku itu? Yang telah mencukupi kebutuhan gizimu sehari hari kawan?

Nah, pengembalian keuntungan inilah yang seharusnya ditekankan pada setiap mahasiswa apapun bidangnya. Biar melekatlah pada otak kita bahwa kita kuliah disini juga berkat peran mereka, kita disini juga dibiayai oleh negara yang uangnya berasal dari kalian juga para bapak ibu petani, dan rakyat secara keseluruhan. Jangan pernah sekali kali berkata bahwa kau kuliah di sini karena kemampuanmu dan kemampuan finansial orangtuamu, ini Perguaruan tinggi negeri bung. Pertanian pula. Harusnya kita menjadi frontliner, garis depan yang memperjuangkan hak petani. Mengembalikan rezeki kita dan sumbangan wajib ilmu kita pada mereka utnuk kesejahteraannya. Bukan untuk kantong pribadi kita yang takkan pernah penuh terisi. Tak usah bicara pemerataan kesejahteraan masyarakat jika di otakmu masih terpatri keselamatan diri sendiri. Cobalah peduli, kawan!

Friday, September 6, 2013

Indonesian's Epic Tetralogy (part 3 end)

Rumah Kaca

"Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia."


Jacques Pangemanann adalah seorang Indo berdarah Menado yang berpendidikan Prancis, dipercaya oleh Gubermen sebagai komisaris polisi di Batavia. Seorang hamba Gubermen yang tunduk dan patuh meski hati, prinsip, serta jiwa intelektualnya tergilas habis dihadapan perintah atasan. Demi jabatan, kehormatan semu, uang, dan kesenangan. Buku Rumah Kaca ini bercerita dengan sudut pandang pertama dari seorang Pangemanann. Perjalanan serta sepak terjangnya menghadang organisasi-organisasi serta meredam perlawanan terhadap Gubermen yang mulai tumbuh di Hindia akibat triger Sang pemula, yang dianggapnya sebagai gurunya, yang dihormatinya, Raden Mas Mingke. Diangkat masuk ke dalam kantor Algemeene Secretarie sebagai staf ahli semakin memudahkannya bekerja mengawasi setiap hal yang berkembang di Hindia hanya melalui berkas-berkas, surat-surat, hasil sadapan, yang disebutnya sebagai “Rumah Kaca”. Transparan, tak ada yang dapat disembunyikan dari seorang Pangemanann, menghancurkan perlawanan pribumi dengan kegiatan pe-“rumah kaca”-annya.

Raden Mas Mingke yang telah di buang ke Halmahera juga akibat kegiatan perumahkacaan Pangemanann ketika menjabat komisaris polisi. Sangat tragis bagaimana bangsa sendiri menghancurkan lainnya yang sedang berjuang utnuk memerdekakakan bangsanya dari kebodohan dan dari penindasan, hanya demi jabatan dan harta.

Disini banyak disinggung bagaimana pertentangan hati pangemanann yang sebenarnya juga tidak mau melakukan ini semua, namun selalu saja kalah dan tersapu oleh egonya.

Buku ini menampilkan reka ulang sejarah dari balik layar yang sangat gamblang dan menarik tentu saja dengan gaya bahasa Pram yang begitu unik dan memberikan nutrisi terbaik bagi intelegensia kita. Sungguh luar biasa dan mengagumkan. Secara umum tetralogi pulau buru terangkum dalam buku terakhir ini, menyuguhkan epilog tragis yang sangat menguras otak dan hati setiap pembacanya pasti.

Dapat ditelaah secara mendalam bahwa kisah dalam buku ini merupakan cerminan kegiatan orang-orang Pemerintahan yang busuk, menggilas bangsanya sendiri, korupsi, pelacuran, suap-menyuap, menjilat atasan dan sebagainya. Pada zaman di terbitkannya, buku ini di hadang pemerintahan orde baru yang tentunya merasa tertikam dengan tulisan-tulisan menyindir Pram. Merka mengetahui, dan lebih mengetahui bahkan dari pada Pram kebenran tulisan Pram, sehingga buku ini ditolak mentah mentah. Buku mahakarya Pram yang luarbiasa ini tak pantas diiperlakukan seperti itu. Inilah warisan, harta benda tak ternilai yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Hal-hal yang menutup tabir sejarah semoga bisa terbongkar dan diperbaiki, demi kebenaran, bukan demi kepentingan. Meski itu pahit dan tak mengenakkan.

Sekian


Salam takzim

Indonesian's Epic Tetralogy (part 2)

Jejak Langkah

"Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya."


Melanjutkan Perjalanan Raden Mas Minke yang akhirnya bisa pergi ke Batavia untuk menempuh pendidikan sebagai mahasiswa di STOVIA. Sang calon dokter ini tidak mendapatkan passionnya di sini, dia tetap menulis, berhubungan dengan orang-orang pentin Gubermen hindia belanda, dan bahkan menjalin cinta kasih dengan seorang Tionghoa, Ang San Mei, seorang wanita yang sangat loyal pada bangsanya. Pergerakan Mingke mulai terbentuk di sini, tulisan – tulisannya mulai berbahasa Melayu, meninggalkan kebiasaan lamanya membuat tulisan dengan bahasa Belanda. Bahasa merupakan pintu gerbang informasi dan pengetahuan. Kebanyakan bangsanya telah mengerti dengan bahasa Melayu ketimbang bahasa belanda yang hanya diketahui oleh para terpelajar pribumi saja.

Bersama Ang San Mei istrinya, ia juga melihat bagaimana organisasi yang berjalan di tubuh Tiionghoa Hwe Koan (THHK) untuk memeprjuangkan revolusi di Tiongkok. Ang San Mei yang merupakan anggotanya juga terus aktif menyokong organisasi ini. Bahkan sampai akhirnya tubuh Ang San Mei yang lemah jatuh sakit dan meninggal. Cukup tragis cerita yang mendasari kematiannya itu.

Mingke dikeluarkan dari Stovia di tahun ke-5. Dia tidak menyesal dan bahkan bersukur. Dari sini dimulailah Jejak Langkah perintisan organiasasi yang akan di tancapkan oleh Sang Pemula. Dia meulai membentuk Sjarikat Prijaji. Membangun Mingguan ‘Medan’ yang berbahasa Melayu sebagai media cetak pribumi Pertama. Meski Sjarikat Prijaji tidak berjalan bahkan padam, namun ‘Medan’ Justru melambung hingga membentuk harian ‘Medan’. Kemunculan Boedi Oetomo menjadi pukulan besar baginya. Organisasi ini hanya menerima anggota berbangsa jawa dengan status keterpelajaran yang tinggi. Mingke melawan, bagaimana mungkin di Hindia yang Berbangsa-ganda dibuat organisasi yang hanya diperuntukkan pada bangsa Jawa? Dia tidak setuju.

Bersama teman-temannya yang masih bisa bekerjasama di Sjarikat Prijaji yang telah mati ia membangun kembali sebuah organisasi berbangsa ganda, dengan landasan keanggotan berdasar Agama dan Dagang secara luas. Sjarikat Dagang Islamiyah. Organisasi ini melambung jauh meninggalkan keprimitifan Boedi Oetomo. Mengadopsi teknik propaganda Boedi oetomo dengan alat yang lebih efektif yaitu harian ‘Medan’ hingga propagandis terpercaya yang langsung terjun ke seluruh penjuru tanah air, menyosialisasikan senjata pamungkas SDI yaitu Boycott. Mingke mempersenjatai anggotanya dengan Boycott ini untuk melawan kesewnang-wenangan aturan yang diterapkan Gubermen Hindia pada pribumi sambil terus membantu memecahkan permasalahan hukum yang di alami bangsanya.

Perjuangannya tak mudah, bersama istrinya yang baru, Prinses van kasiruta, soranga putri di daerah Maluku yang dibuang ke jawa bersama ayahnya, membendung serangan serangan dari kelompok indo, dan belanda yang tidak senang pada sepak terjang mereka. Hingga akhirnya....

Wednesday, September 4, 2013

Seribu Pulau Kita

Minggu, 1 Agustus 2013

Mungkin frase “Just Do It” yang sederhana ini berlaku pada kami. Tanpa perencanaan yang matang rencana itu langsung kami eksekusi. Jadilah kami berada di Kepulauan Seribu untuk menikmati keagungan-Nya melalui keindahan ciptaannya.

Adalah aku, hendra, riki, salim, dan gian melangkahkan kaki dengan ringan tanpa memusingkan apa yang bakal terjadi di depan jalan kami nanti. Asal sudah tau rute, ada uang cukup, apalagi gian sudah punya kenalan di sana- walaupun dia sendiri belum bertemu orangnya, tapi kenalan ini cukup membantu kami dalam mempersempit pengeluaran.

Kami berempat kecuali gian berangkat dari Dramaga, Bogor pukul 3 pagi. Sengaja sepagi itu memang untuk mengejar kapal penumpang dari muara angke menuju kep.Seribu pukul 07.00. Commuter Line berangkat dari Stasiun Bogor pukul 4.00 sampai di Jakarta Kota sekitar pukul 5.30, langsung saja agendany tentu mencari mesjid. Hehe..

Menunggu cukup lama untuk kehadiran gian di stasiun kota, eh ternyata dia langsung menuju muara angke. Jam pun sudah menunjukkan pukul 7.30, sudah tidak terkejar pikirku, yahh berharap saja masih ada kapal lainnya yang setia bertengger di dermaga. Kami pun bergegas menuju halte busway, mengambil rute Pluit, turun di halte Penjaringan, langsung naik ke angkot 01 trayek Grogol-M.Angke. singkat cerita sampailah kami di dermaga. Tidak ada kapal..... menunggu.... sekarang pukul 9.30.. huuuhhh....

Tidak bisa ditawar sepertinya, mencoba menumpang kapal nelayan tetapi beliau-beliau yang mulia itu memasang harga terlalu tinggi. Tidak! Lebih baik kami naik speed boat dari dermaga baru M.Angke 52.000 per orang berangkat pukul 12.30. hahaha.... ini sensasinya naik speed boat,  terbang beberapa inch dari permukan laut kemudian dihempaskan pada tegangan air hingga biasanya penumpang wanita sedikit histeris karenanya. Hahaha... firs time for me.

Ojek Kapal-Moda Transportasi antar pulau
Tujuan kami Pulau Pramuka. Sedangkan kenalan kami ada di pulau panggang. Gampang saja, ada ojek kapal di sini, 3.000 rupiah cukup, eits tapi ini hanya ada di kelurahan Pulau Panggang lho, tidak jamin di tempat lain seperti ini. Beberapa lama menikmati pemandangan di Pulau Pramuka, menikmati kehidupan masyarakatnya, anginnya, cuacanya, nyiurnya.... ahh.. aku ingin tinggal di sini lebih lama. Damai, Rukun. Bahkan kami disambut 3 ekor lumba – lumba yang melompat keatas permukaan laut ketika kami hampir merapat di Pulau Panggang. Sungguh pemandangan yang luar biasa langka, sedangkan penduduk sekitar saja ada yang belum pernah menyaksikannya, kami? Istimewa cuy.... :D

Sore hari di Pulau Panggang
Pulau panggang.... terlalu padat, tapi yang asik itu penduduknya sudah saling kenal dekat satu sama lain. Bagaimana tidak, yang ada hanya arah mata angin, timur barat selatan utara untuk menunnjukkan daerah tujuan kita di pulau.
T: mau pergi kemana?
J: ke timur
Begitulah biasanya kami dengar orang – orang berbicara. Sungguh bukan hanya wisata alam, berbaur dengan masyrakat dan merasakan kehidupan mereka dari dalam lebih lagi merupakan keistimewaan perjalanan ini.

Pembuatan Kerupuk Ikan di Pulau Panggang
Malam hari, bintang, deru mesin pesawat, deburan ombak, lampu-lampu nelayan di ujung horizon. Hmmm.... aku berbaring di dermaga menikmati itu semua. NikmatMu ya Rabb.

Sunset at the eastern side of Panggang Island

Kesokan harinya....
Saatnya bersenang senang. Pulau Karya, jaraknya sangat dekat dengan Pulau Panggang. Sepi, pantainya bersih.... tak ada siapa-siapa hanya kami. Bermainlah kita sobat. Haha :D

Banyak yang dilalaui... banyak pula jejak yang kita tinggal
Berpeluh, berpanas, emosi, hanya bumbu
Tak lain canda, kebahagiaan, senyum, tawa, adalah hidangannya
Suguhan dari Sang Pencipta untuk kami.... dari Indonesia... bukan dari mana-mana.
Untuk berfikir, mengagumi... dan bertambah takutlah kita pada-Nya
Segala taburan keindahan itu.... berserak di sini
Di Seribu Pulau ini.

Indahnya Pesisir Pulau Karya

Sudah sejauh ini 3 pulau kita lampaui. Pengeluaran pun tidak terlalu besar. Kulit sudah terbakar, saatnya kita pulang.

Ready for go home :)

Thursday, August 29, 2013

It's A Half Way There

Seketika teringat pada sebuah bait lirik lagi Bon Jovi, Livin on a prayer.

Theodore Roosevelt
Lagu ini dahulu cukup aku senangi diantara lagu-lagu Bon Jovi lainnya. Sedikit menelaah, lagu ini bercerita tentang sepasang suami istri yang berjuang keras dalam menjalani kehidupan. Tommy namanya, dia seorang buruh yang bekerja di pelabuhan. Istrinya Ginna, bekerja sepanjang hari di diner. Mereka berdua berbagi duka. Beratnya mencari nafkah membuat Ginna tidak tahan dan berpikir untuk lari, tetapi Tommy berbisik padanya: Baby, It’s Okay... Someday... We got to hold on to what we’ve got, it doesn’t make a difference if we make it or not, we’ve got each other and that’s a lot of love. We’ll give it a shot.

Hehe... tapi sebenarnya kali ini bukan hal itu yang membuat aku ingin menulis. Bait inilah: it’s a half way there, we livin on a prayer, take my hand and we’ll make it I swear. We livin on a prayer.

Yeah. Its just half way there. I’ve taken my half way two years ago.

Wisuda. Tentunya bukanlah tujuan akhir. Tapi 2 tahun sudah aku jalani perkuliahan, dan sebentar lagi akan menempuh setengah sisanya, wisuda adalah dambaan setiap mahasiswa. Kan benar? Kan aku tidak salah? Wisuda adalah titik awal dari sebuah penutup lembaran lama menuju dunia nyata pikirku. Setengah lagi kebahagian sebagai mahasiswa akan berakhir. Kata orang, ambillah postgraduate biar kau tetap bisa disebut sebagai mahasiswa, jika kau ingin. Hmm... sudah sejauh langkahku sekarang jika tanpa izinNya tak mungkin aku sampai ke tanah ini. Pun jika Dia menghendaki, tentu aku ingin melanjutkan studi. Tepat seperti lagu ini, Berusaha dan berdoa. Aku pun begitu.

Tak inginku setengah jalan yang lalu menjadi hampa. Tak ingin juga setengah jalan kedepan tak meninggalkan bekas apa-apa. Sampai pada garis dimana aku harus memulai lagi.

Friday, August 16, 2013

Kisaran on The Spot

Lebih tepat disebut Kisaran City atau Kisaran Town? Mungkin dari segala aspek baik dari ukuran, fasilitas publik, maupun populasi, kota ini masih lebih pantas disebut Town ya.
Baiklah, ini dia sudut-sudut kota kisaran yang cukup menarik kalau tidak bisa dikategorikan sebagai menarik.

Dibelah oleh jalan lintas sumatera (Jalinsum) bagian timur yang menghubungkan Aceh sampai dengan Lampung, membuat kisaran pasti dikenal oleh sebagian besar sopir bus dan truk. Hehe.
Gapura Kota Kisaran

ini nih, Gapura kota Kisaran, dahulunya ada lempengan besi tuh di atasnya. kok udah hilang ya? hmm... padahal, kalo ga salah, biaya pembangunan gapura ini cukup besar loh. hasilnya? weeh..

Gedung 'Istana' Kantor Bupati Kabupten Asahan
Gedung kantor Bupati udah ngalah-ngalain istana presiden megahnya. Wah, moga aja bapak-bapak yang kerja di sana itu betah ya? Hehe apalagi di sebelah rumah dinas pak bupati, kan enak tinggal nyebrang hihi
Tugu Adipura

Nah ini dia Tugu Adipura, udah berapa kali ya dapet adipura? hmm


Jalan tol dalam kota (bebas macet) hehe Jln HOS Cokroaminoto. Jalur utama dalam kota Kisaran.

Kisaran mempunyai tempat olah raga elit, yaitu Golf. Hehe. Walaupun Lapangan Golf ini milik salah satu perusahaan besar di Kisaran, tapi cukup keren juga bila dibandingkan dengan kota-kota tentangga yang tidak memilikinya.

Perusahaan itu bernama Bakrie Sumatera Plantation. Dari namanya saja pasti sudah tau kan milik siapa? Dulunya, perusahaan ini dijalankan oleh orang – orang Belanda pada zaman kolonial yang bernama perusahaan ‘Uni Royal’. Ya di Kisaran ini pusatnya. Komoditas yang dikembangkannya adalah karet. Mulai dari perkebunannya yang sangat luas, jalur transportasi menggunakan kereta kecil yang bernama kereta api ‘muntik’, hingga pabrik pegolahannya. Tapi sayangnya, saat ini produksi utama bukan lagi komoditi karet, namun di ganti menjadi kelapa sawit. Ya wajar saja, harganya memang menggiurkan dan pasti menimbulkan keuntungan yang lebih besar. Lokasi perusahaan, pabrik, dan perkebunan yang terintegrasi ini juga memberikan kelas masyarakat baru kala itu. Para pimpinan perusahaan dan petinggi lainnya tinggal di perumahan mewah (bayangkan rumah-rumah besar ala belanda) dalam satu komplek. Sedangkan para pegawainya ditempatkan di perumahan sekitar pabrik. Berbeda lagi pada kelas buruh di perkebunan yang bertugas memelihara hingga menyadap karetnya, ditempatkan di sekitarnya. Aku membayangkan kota ini merupakan salah satu kota yang cukup maju di zaman itu.

Tugu Perjuangan
Tugu perjuangan. Aku belum berhasil mendapatkan literatur dan informasi sejarah tentang ini. Sayang sekali.
Jalan Imam Bonjol

Times Square-nya kota kisaran, hehe jalan Imam Bonjol-Simpang Panglima Polem, dengan segala macam pertokoan dan tempat transaksi uang terbesar di Kisaran.

Pajak Kisaran (read: Pasar). Entah dari mana asalnya kata Pasar (yang orang Indonesia sepakat menjadikannya sebagai nama lokasi perdagangan tradisional) menjadi Pajak (khusus sumatera utara). Sedangkan kata “pasar” artinya adalah Jalan yang telah di Aspal (dalam pengertian orang Sumatera Utara). Hal itu sih bukan keunikan dari kota ini. Hal itu umum di Sumatera Utara. Mungkin unik bagi Indonesia. Hehe. 

Tapi, yang aku salut dari pajak Kisaran ini adalah bagian penjualan daging ayam dan sapi. Kenapa? Coba lihat saja, di tempat lokasi penjualan daging ayam juga sekaligus tempat penjagalannya. Tidak tanggung tanggung di situ juga bulunya di bersihkan. Jadi? Terjamin bukan kehalalan dan kesegarannya?
Begitu pula halnya dengan daging sapi walaupun tidak di jagal di lokasi, namun setelah di jagal di rumah penjagalan, sapi kemudian dibawa ke outlet daging sapi di Pajak ini untuk di kuliti, dibersihkan, dan dipotong-potong di tempat. Masih segar bukan? Hayooo silahkan diterapkan di daerah kalian. Hehe.

Pendopo dan Lapangan Parasamya
Pendopo dan Lapangan Parasamya, sebagai alun – alun kota. Biasanya disini dilaksanakan upacara 17 Agustus dan acara – acara formal lainnya. Dahulunya di seberang jalan pendopo ini adalah taman makam pahlawan, namun karena dipandang terlalu sempit, akhirnya makam-makam para pahlawan ini dipindahkan di Jalan Lingkar Luar Kisaran yang juga merupakan jalan Lintas Sumatera Utara.

Jembatan = Titi (bahasa Sumatera utara, hehe)
Kota kisaran ini dilintasi satu sungai besar, yaitu sungai silau. Ada 2 jembatan yang dibuat untuk mengakomodasi akses kota ini.

Universitas Asahan (UNA)
Kota ini juga memiliki Universitas sendiri loh, jangan salah. Kita patut bangga juga, mana ada kota – kota tentangga yang punya kompleks universitas semacam ini. Universitas Asahan (UNA) namanya. Memang belum termasuk salah satu universitas negeri, tetapi sedang menuju perizinan ke arah sana. Semoga saja terus terjadi inovasi-inovasi dan perbaikan, harus bisa sejajar dengan perguruan tinggi negeri lain di Indonesia.

Tugu Pancasila di Komplek Universitas Asahan
Di kompleks Universitas ini juga terdapat Monumen Pancasila. Ini dia. Lagi-lagi aku tidak berhasil menemukan literatur maupun cerita-cerita dibalik Monumen ini. Barangkali orang hanya melihatnya sebagai hiasan jalan saja.
Gedung walet
Gedung-Gedung pencakar langit kota ini ada juga lho.. mau tau? walau hanya memiliki 3-6 lantai tetapi ajaib, penghuninya burung walet. haha. Dahulu sih sekitar tahun 90an - 2005 sepertinya burung waletnya masih banyak, tapi sekarang tinggal suara bising rekaman kicauan walet yang diputar dari dalam gedung untuk menarik walet-walet membuat sarang di dalam sana. Kasian.

masih banyak lagi sepertinya, mungkin sih di masukin ke Blog ini satu per satu. tapi masih blum terlalu mood. nantilah ya. hehe


Thursday, August 15, 2013

Kisaran, My Hometown

Aneh memang namanya, Kisaran, nama macam apa itu, hehe. Tapi semuanya pasti punya asal usul kan.

Menurut buku Cerita Rakyat: ”Legenda Kisaran Naga” yang dikarang oleh Bapak. R. Sutrisman, M.E.S.Sos. bahwa nama Kisaran diambil dari sebuah perkampungan yang disebut Kampung Kisaran Naga.
Sungai Silau
”pada suatu hari hujan turun sangat lebat, petir sambung menyambung, angin topan bertiup sangat kencang, kayu ara dan pohon kelapa di tepi sungai bertumbangan. Sehingga orang-orang kampung pun berhamburan keluar rumah karena takut tertimpa pohon yang roboh . air-air sungai mendadak naik sampai ke bibir sungai. Dalam kepanikan itu tiba-tiba salah seorang warga melihat ada makhluk yang berkisar-kisar di bawah timbunan pepohonan yang tumbang. Dan rumput kelayau pun terkuak seolah-olah ada yang membuka. Ia pun berteriak ”naga berkisar,....naga berkisar.....” orang kampung pun segera mendekati orang yang berteriak tersebut. ”mana ular naganya??” orang yang pertama melihatpun menunjuk ke arah tumpukan pepohonan yang tumbang ”itu........., tengoklah”. Mereka melihat dengan jelas seekor ular besar seperti naga tubuhnya bahkan lebih besar dari pohon durian tua dan sangat panjang. Tubuh ular itu sudah berselimut, bahkan rumput-rumputan sudah tumbuh di atasnya. Ular naga itu terus bergerak berkisar dengan mengibas-ngibaskan ekornya untuk menyingkirkan pepohonan yang menimpa tubuhnya. Lalu ia menuju ke sungai yang sudah meluap dan menghanyutkan diri ke hilir sungai silau, sampai ke muara sungai Asahan di Tanjung Balai.

Itulah sekelumit dongeng asal mula nama ”Kisaran” 

Aku dilahirkan di kota ini, dibesarkan di sini, sekolah disini, bermain di berbagai sudutnya. Sembilan belas tahun sudah aku bersamanya, tentulah sudah banyak perubahan dimana-mana. Satu yang tak berubah kurasa, orangnya. Ya aku tau, sifat masyarakatnya masih tetap sama seperti dulu meski serangan individualistik perkotaan memang merangsek di sebagian besar tampak luar penduduknya, namun sifat alamiahnya masih tetap bertahan. Sedikit susah juga menjelaskannya, apalagi aku bukan ahli sosiologi, meskipun begitu dari pengamatanku selama hidup di kota ini ada hal yang aku rasa cukup menonjol, yaitu rasa kedamaian dan sifat santai masyarakatnya. Dengan segudang permasalahan yang pasti dimiliki setiap individunya, tapi setiap sore lihatlah keramaian jalan yang dipenuhi kendaraan bermotor berjalan santai di sisi kiri badan jalan. Tidak hanya di malam minggu, setiap hari mulai dari pukul 5 sore, biasanya lebih banyak ABG labil sebenarnya, tapi orang-orang dewasa juga tidak mau ketinggalan. Bahkan pada kondisi harga BBM yang selangit ini saja sepertinya sulit untuk membendung mereka menikmati suasana damai kota di sore hari dengan slow riding motion.

Dilihat pagi hari, sangat berbeda apabila dibandingkan dengan kota bogor, kecepatan pergerakan roda ekonominya juga begitu santai. Mungkin karna tidak terlibat langsung, tapi itulah yang terlihat secara kasat mata.
Tugu Perjuangan, di jantung kota Kisaran

Ibu kota kabupaten Asahan ini juga belum memiliki pusat perbelanjaan yang biasanya sudah menjadi bangunan lazim yang terdapat pada kota-kota tetangga, mungkin para investor enggan menanamkan modalnya untuk itu karena melihat daya ekonomi yang kurang bergairah di kota ku ini. Namun itu bukanlah sebuah ukuran tentunya, tinjauan lain yaitu dengan adanya toko-toko baru bermunculan setiap aku kembali ke kota ini. Terkadang membuat aku tersenyum melihat sisi kiri-kanan jalan melihat toko, resto, bahkan tempat tukang pangkas baru. Artinya ada kemajuan cukup berarti walau perlahan. Sempat tebesit ingatan cita-cita lama yang terpendam, membangun monopoli bisnis di kota ini, membangun berbagai macam toko dan membuka berbagai macam bisnis di sini, dalam satu komando di tanganku. Hehe. Dulu itu aku ingat berfikir seperti itu karena sehabis nonton suatu film yang aku lupa judulnya.

Jalan Lintas Sumatera (bagian Timur) dalam wilayah kota Kisaran
Tidak ada yang begitu spesial atau sangat unik dari kota ini yang bisa mengangkatnya di kancah nasional saja, atau mungkin belum tereksplorasi. Sama saja dengan kota-kota tetangga di sumatra utara di tepian timur ini, sudah barang tentu kotanya selalu di kelilingi oleh daratan luas yang ditanami pohon kelapa sawit atau pohon karet. Muak sebenarnya melihat pemandangan di sepanjang jalan lintas sumatera itu yang selalu menyuguhkan pemandangan barisan pohon-pohon sawit. Tapi mau bagaimana lagi, memang inilah penyumbang salah satu kebanggaan Indonesia di dunia yaitu sebagai produsen nomor 1 Crude Palm Oil (CPO). Semoga saja industri hilirnya juga terus berkembang memajukan Sumatera dan Indonesia pstinya. Jangan puas hanya dengan produksi bahan mentah. okay? hehe. segini dulu lah.

bersambung...