Monday, July 22, 2013

Kaligrafi

Sabtu, 20 Juli 2013, jam setengah sebelas di siang yang mendung, di kampus Dramaga. Aku baru saja menyelesaikan ujian ku dan membalas surat elektronik yang masuk setelahnya. Di jam – jam berikutnya aku belum bisa membayangkan hal apa saja yang akan aku lakukan. Tidak tau mau melakukan apa, akhirnya aku  memutuskan  untuk pergi ke Cikini seorang diri, memenuhi beberapa agenda yang belum sempat terlaksana. Yap... membeli buku di Taman Ismail Marzuki. Haha... Sudah lama memang berniat kesini.

Setelah puas memborong 2 buku epic ini (Jejak Langkah dan Madilog) aku mampir sebentar di gedung galeri di sebelah.

Eh, kebetulan sedang ada pameran Calligraphy Islam II di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki. Sebagai pecinta seni rupa, tentu saja aku tidak mau melewatkan kesempatan ini.

Kaligrafi adalah suatu bentuk karya seni yang bermain dalam huruf arab dengan polesan sangat Indah, huruf – huruf yang diambil dari Al-Quran, mengandung makna di dalam keindahan rupa yang di ciptakan sang seniman. Ini adalah seni yang sangat mewah dan menakjubkan dalam perkembangan dan penyebaran agama Islam. Kreasi – kreasi yang dapat di buat dari kata – kata dalam Al-Quran sangat tidak terbatas. Kalau biasanya kita hanya melihat tulisan – tulisan pada dinding maupun ornamen – ornamen Mesjid ataupun rumah, maka inilah gambaran seni yang lebih luar biasa lagi:




Tentu tidak semua orang bisa mengetahu dan memahami arti di balik lukisan rangkaian huruf – huruf tersebut. Tapi tentu saja sang pencipta karya seni ini harus memahami dengan benar apa yang di buatnya, harus memahami dengan benar karakter huruf, kata, maupun kalimat dalam Al-Quran. Cukup berbahaya juga bila sang pencipta karya seni ini hanya asal dan mementingkan estetika belaka. Malah esensi dari kaligrafi tersebut tidak dapat di terima bukan?



Baiklah, sekian saja perjalanan ramdom kali ini. Sayang, aku tidak ingat dimana aku simpan kaligrafi – kaligrafi yang kubuat waktu SD dulu. Mungin lain waktu aku bisa coba buat lagi. Siapa tau dipajang ke galeri seperti ini. Haha (ngayal)

22 Juli 13
Baru niat posting sekarang. hehe.

Wednesday, July 17, 2013

Senyuman itu...

Assalamualaikum wr. wb.

Cahaya yang dipancarkan seseorang ketika bersenyum sangat luar biasa menurut ku. Melihat orang – orang berjabatan tangan, tersenyum, menucapkan salam. Subhanallah, seakan lupa akan masalah.

Aku teringat sebuah lagi dari grup nasyid asal Malaysia, Raihan, yang berjudul “Senyumlah”


Manis wajahmu kulihat di sana
Apa rahasia yang tersirat
Tapi zahirnya dapat kulihat
Mesra wajahmu dengan senyuman

Senyum tanda mesra senyum tanda sayang
Senyumlah sedekah yang paling mudah
Senyum di waktu susah tanda ketabahan
Senyuman itu tanda keimanan

Senyumlah...Senyumlah...
Senyumlah...Senyumlah...

Hati yang gundah terasa senang
Bila melihat senyum hati kan tenang
Tapi senyumlah seikhlas hati
Senyuman dari hati jatuh ke hati

Senyumlah...Senyumlah...

Senyumlah seperti Rasulullah
Senyumnya bersinar dengan cahaya
Senyumlah kita hanya kerana Allah
Itulah senyuman bersedekah

Senyumlah...Senyumlah...
Senyumlah...Senyumlah...

Itulah sedekah paling mudah
Tiada terasa terhutang budi
Ikat persahabatan antara kita
Tapi senyum jangan disalah guna

Senyum... senyum... senyum...
Senyumlah kita...

Aku membayangkan wajah seorang gadis kecil ceria sedang menggendong adiknya yang masih berumur 4 bulan sambil berjualan air mineral di depan Mesjid Istiqlal. Dia tersenyum, sungguh manis sekali. Sedikit aku ngobrol dan bercanda dengannya. Tawanya begitu jujur, senyumnya begitu ikhlas. Suatu jiwa yang masih sangat murni dan bersih.

Begitu indahnya ketika tersenyum, membuat orang yang melihat hatinya menjadi teduh, kapan pun bertemu dengan siapapun dalam kondisi apapun usahakan tersenyum. Karena senyuman akan mampu mencerahkan dunia yang kelam sekalipun.

Tuesday, July 16, 2013

Museum Traveling (Part 2: Etnobotani)

Assalamualaikum wr.wb.

1 ramadhan lalu, aku memutuskan untuk sedikit berkelana ke kota. Di postingan sebelumnya sudah aku tuliskan keadan Bogor yang sangat damai waktu itu bukan? Nah, inilah salah satu destinasi ku pada waktu itu. Entah kenapa baru terkumpul niatnya untuk menuliskan cerita itu hari ini, sepertinya memang karena aku sedikit malas menulis belakangan ini.

Musium Etnobotani : Jln. Ir. H. Juanda. No. 24 Bogor


Sama seperti 2 musium sebelumnya yang aku kunjungi, kosong, sendirian di ruangan yang cukup luas itu. Tak apalah, jadi lebih puas mengamati kalau sendirian. Hehe.

Pada intinya, musium ini menampilkan segala macam pernak – pernik kebudayaan Nusantara sejak zaman batu sampai sekarang (masih cukup banyak yang terlestarikan). Di bagian depan pintu masuk langsung di suguhi sebuah relief besar yang menggambarkan kondisi kebudayaan masyarakat di Nusantara pada waktu lampau. Tidak mahal kok tiketnya, cukup Rp. 3000 sudah puas berkeliling.

Ada suatu urutan yang dalam penempatan barang barang kebudayaan masa lampau ini mulai dari zaman batu, yang menampilkan batu – batu tidak jelas yang disitu tidak tertulis kegunaannya apa, tombak berburu, dan macam macam peralatan lain yang bukan mustahil masih ditemukan pada beberapa etnis pedalaman di Indonesia.

Ada banyak benda – benda seperti pakaian rumbai, alat dapur, alat rumah tangga, mainan anak-anak, senjata, alat musik dan sebagainya.

Ada lagi beberapa lokasi yang diklasifikasikan berdasarkan penggunaan tanaman tertentu, seperti benda – benda yang dibuat dari kelapa, bambu, pandan, labu, rotan, pisang, dan aren.

Ini yang paling keren, hasil fermentasi dan alat- alat untuk fermentasi di zaman dahulu kala. Disini alat fermentasi yang ditemukan adalah alat fermentasi tempe. (maklum, anak agroindustri, leluhur punya nih, hehe)
Selain itu ada pula pembuatan jamu, obat-obat herbal, dan pembuatan gula merah.


Ada pula beberapa alat – alat berat seperti bajak yang terbuat dari kayu yang sangat besar. Selain itu ada alat alat perikanan termasuk juga sampan primitif yang terbuat dari batang pohon untuh yang dikeruk dan dibentuk menjadi sampan. Luarbisa menakjubkan. Nenek moyang kita ini inventornya J



Wednesday, July 10, 2013

Dramaga-Bogor, 1 Ramadhan 1434 H

Assalamualaikum wr. wb.

Hari ini memang cukup syahdu boleh di bilang. Pagi tadi dinginnya udara menemani saat sahur sendirian. Keluar membeli makanan hangat, dinaungi langit gelap yang mendung.
Pagi harinya pukul 10.00 aku putuskan untuk sedikit berkelana ke kota. Mengunjungi beberapa tempat, dengan bebek besi ku yang STNK-nya masih mati. Maaf ya pak polisi, bukan bermaksud tidak taat hukum, tapi tak masalah kan sebenarnya, toh aku udah punya sim, STNK juga ada, hanya saja masa berlakunya yang sudah habis. Hehe.

Cuaca pagi ini hingga menjelang sore masih sama. Awan menggantung di atas kepala siap untuk mengguyurkan hujannya. Tapi asyik, udara dingin, sedikit – sedikit panas matahari, paling hanya gerimis kecil. Sepanjang perjalanan Dramaga – Bogor Kota biasanya ditempuh selama kurang lebih 15 sampai 20 menit dalam keadaan panas dan lalin padat merayap. Sekarang, hari ini... perjalanan bisa aku nikmati. Lebih dari 30 menit aku baru sampai ke Stasiun Bogor. Sama sekali tidak ada kemacetan yang berarti, yaah... paling hanya di depan pasar saja yang macet, biasalah persiapan berbuka.

Mengitari kota bogor yang sangat lengang seperti ini adalah suatu hal yang ajaib menurut ku. Di bawah naungan awan dengan cuaca yang sangat lembut memanja, ku pacu si hitam lambat – lambat, sambil senyum – senyum kekaguman. Kalau saja Bogor bisa setiap hari seperti ini, tentulah aku mau menetap di sini. Damai rasanya.

Dramaga, 10 Jul. 13
14.30 WIB

Monday, July 1, 2013

Museum Traveling (Part 1: Museum PETA)


Lanjut ya?

Nah, pada hari ini juga, masih ada satu meseum lagi yang ingin aku kunjungi. Masih seputar museum yang bertema perjuangan bangsa, kali ini aku memacu motor ku menuju monumen dan museum PETA.

Destinasi ke-2: Museum dan Monumen Pembela Tanah Air (PETA). Jalan Jendral Soedirman no.35


PETA atau pembela tanah air adalah pasukan yang dibentuk di bawah imperum kekaisaran jepang. Atas usul para petinggi bangsa dan ulma pada saat itu seperti Raden Gatot MangkoepradjaSoekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, KH Mas Mansyur, Buya Hamka dan kawan – kawan maka disetujilah pembentukan pasukan ini. Para pemuda sukarela yang masuk ke dalam akademi militer pertama bangsa ini langsung disuguhi ilmu – ilmu peperangan modern dengan segala peralatan dan persenjataan mesin yang ssudah cukup mumpuni pada waktu itu. Namun melihat rakyat yang semakin sengsara akibat pendudukan jepang di bumi pertiwi dengan sistem romusha-nya yang bahkan lebih keji dari pada bangsa belanda dengan tanam paksanya, para prajurit PETA itu tersulut kobaran emosi. Maka terjadilah pemberontakan dimana – mana dari segala macam organisasi bentukan jepang yang dulunya bertujuan untuk membungkam rakyat indonesia sendiri. Khususnya pemberontakan PETA di Blitar yang dipmpin oleh Supriadi.

Singkat cerita setelah Hiroshima dan Nagasaki di luluh-lantakkan bom atom Amerika, tentara PETA dan para pemuda terus mengawal persiapan kemerdekaan hingga dikibarkannya sang saka Merah Putih tanggal 17 Agustus 1945. Setelah itu, PETA pun dibubarkan demi menghapus jejak jepang di Indonesia dan dibentuklah BKR atau Badan Keamanan Rakyat yang menjaga kedaulatan negara yang masih muda ini dari nafsu negara belanda yang ingin merebut kembali tanah jajahannya.

Itulah cerita singkat yang bisa aku sampaikan melalui perspektifku dari relief yang terpahat pada monumen PETA ini. Ditengah monumen terdapat Patung Panglima Besar Jendral Soedirman berdiri kokoh nan gagah. Singkat saja kunjungan ku disini, sebenranya saat itu para tentara sedang ada hajatan pernikahan salah seorang kerabatnya di aula. Kondisi monumen sendiri masih sangat baik dan terawat. Yah memang karena tempat ini masih sering dipergunakan para anggota TNI tentunya.

Ada kata – kata yang sangat bagus dituliskan pada monumen ini :


"Kami datang berkumpul di Bogor tidak saling mengenal, kami berpisah sebagai kawan seperjuangan untuk membela Tanah Air"

Dalam perjalanan pulang, aku sempatkan diriku mapir ke Taman Makam Pahlawan, Dreded, Bogor. Di depan monumennya aku berdoa, semoga arwah mereka diterima disi-Nya sebagai pahlawan yang mati syahid demi kemerdekaan bangsanya, terbebas dari penjajahan.

Sekian perjalanan ku hari ini.

30 Mei 2013

Bogor

Museum Traveling (Part 1: Museum Perjuangan Bogor)

Assalamualaikum..
Liburan kali ini memang berbeda dan harus berbeda dari sebelumnya. Kalau tahun lalu aku pulang kerumah setelah UAS berakhir kali ini tidak. Walaupun misi utamanya memang hanya berupa nilai terbaik di satu mata kuliah mayor 3 SKS, tapi waktu yang diselipkan diantaranya begitu banyak dan melimpah. Syukurlah ada kakak yang bisa memberikan rekomendasi. Tak pernah terfikir sebelumnya bahwa kekosongan waktu ini bisa dimanfaatkan untuk menjelajah kota kedua ku ini. Sedikit malas beranjak dari Dramaga sebenarnya kalau mengingat panas dan macetnya kota bogor, belum lagi menatap STNK yang sudah mati sejak 19 Juni lalu. Ah, masa bodo, dari pada bengong, maybe IT’S TIME TO EXPLORE. :D

Destinasi pertama, Museum Perjuangan, Jalan Merdeka No. 56

Masuk ke dalam halaman museum rasanya aneh, museum ini berada ditengah keramaian, tapi miris melihat kondisinya yang sepi. Aku masuk sendirian, tidak ada satupun orang yang berkunjung. Hanya ada sorang bapak yang mencabuti rumput liar di halamannya. Bahkan sang penjaga tidak ada. Baiklah, untung bapak itu mau mengurusi registrasi ku. Rp. 3000 cukup untuk menikmati aroma perang menuju kemerdekaan. Saat masuk, aku disambut dengan patung hijau setengah badan Kapten TB.Muslihat. Beliau lahir di pandeglang 25 September 1925, gugur pada tanggal 25 Desember 1945. Ada apa dengan tanggal 25 dalam hidupnya. Tak disangka ternyata ada juga pahlawan besar yang lahir pada tanggal yang sama dengan aku lahir. Hehehe (jadi pengen ziarah ke makamnya :D)
Kapten TB.Muslihat

Museum ini diisi oleh berbagai maccam senjata perang yang digunakan para pejuang kita dahulu. Mulai dari bambu runcing, molotov, senapan, sampai senjata berat seperti gambar satu ini

Yap, ini adalah senjata anti pesawat tempur yang digunakan para pejuang untuk menjatuhkan gempuran musuh dari angkasa. Ada pula mortar, granade thrower, jenis – jenis granat, berbagai macam pistol yang tentu kesemuanya masih menggunakan bahan dari besi yang tebal dan berat. Ada pula senapan mesin automatic hasil dari melucuti persenjataan tentara Dai Nippon yang lari terbirit – birit setelah Hiroshima dan Nagasaki di bom atom Amerika. Kesempatan itu tidak disia-siakan pejuang kita untuk memperkuat sistem persenjataan. Persiapan kemerdekaan.

Beberapa Koleksi Senjata Berat dan Amunisinya
Selain itu, ada pula diorama – diorama yang aku sendiri tidak mengetahui cerita dibalik diorama itu.

Ada juga klipping surat kabar tempo dulu yang memuat tulisan Soekarno dan Hatta pada saat HUT RI ke 1. Beserta ucapan selamat dari berbagai negara lain seperti India, Mesir, dan Australia. Naik ke lantai dua, suasana lebih menyeramkan bro. Gua sendirian mameennn...
Beberapa klipping surat kabar Berbahasa Belanda dan Indonesia

Ada banyak baju – baju bekas milik para pejuang kita yang membuat ruangan ini terlihat lebih spooky, ada baju, sepatu, celana, baret, dan lainnya. Tetapi yang lebih menarik adalah melihat peralatan seperti telepon kuno, mesin ketik, dan mesin apa lagi yang satu ini aku lupa. Hehe.
Peralatan yang digunakan untuk menunjang perlawanan terhadap agresi Belanda

Yah inilah perjalanan singkat ku di museum perjuangan. Di akhir perjalanan aku bertemu dengan bapak sang penjaga museum. Ternyata beliau berujar, “museum ini ga pernah sepi pengunjung kok, pasti ada saja setiap hari.” Yah mudah – mudahan lebih banyak lagi orang yang mau berkunjung ke museum dan mencoba peka akan sejarah perjuangan para pemuda dan seluruh rakyat di medan perang maupun di meja perundingan. Kalau dulu mereka kalah dalam perjuangan, coba berimajinasi, ada di mana kau sekarang?

Bersambung...

Saturday, June 15, 2013

Personality Test is Bullshit Man!

Sekali waktu aku pernah melakukan tes kepribadian “personality plus” beramai – ramai dengan beberapa teman. Yap, hasilnya menunjukkan persentase tertinggi dengan sifat Melancholis, diikuti dengan koleris, plegmatis, dan terakhir sanguinis dengan persentase yang hampir merata untuk ketiga tipe sifat ini kecuali sangunis yang sangat kecil persentasenya. Kontan saja langsung aku sebagai lelaki dengan sifat melankolis menjadi bahan tertawaan teman – teman lainnya. Mereka bilang, “cowo kok melankolis, sering murung ya sendiri di kamar???” Bahkan lagu – lagu favorit ku yang beraliran classic rock juga terkena imbas, “wah memang bener tuh, org melankolis lagu – lagunya aja temanya banyak yang meratapi diri.” Sejak kapan lagu classic rock temanya ratapan cuy? coba lihat lagu - lagunya bon jovi? led zappelin? ini lagu balada kehidupan cuy! Begitulah pikiran yang tertanam secara umum terhadap sifat melankolis. Damn, they just don’t know what they’re talkin about.

Melankolis itu hanya satu dari 4 kategori sifat yang secara natural pasti ada dalam diri setiap orang. Sebenarnya aku tidak sependapat dengan pengkategorian sifat – sifat manusia hanya kedalam 4 tipe ini. Kecenderungan dari satu sifat itu memang selalu ada, tapi setiap manusia itu berbeda, aku tidak setuju bila diukur dengan persentase dan angka. We are human, the most complex creature in the world. Bahkan parahnya, personality plus sering menjadi acuan untuk menentukan atau men-judge sifat seseorang, terkadang tanpa melihat sisi baiknya. Bukankah Allah menciptakan setiap manusia itu berbeda satu sama lainnya, bahkan orang kembar siam sekalipun memiliki perbedaan dalam sidik jarinya. Aku rasa tak kan ada satupun pendekatan yang sempurna untuk menilai dan mengategorikan sifat – sifat manusia itu sendiri.

Memang yang paling umum digunakan adalah keempat sifat ini, cukup mewakili, apabila orang – orang mau memandangnya sebagai penilaian holistik, bukan hanya menilai dari sifat dominannya saja yang dideskripsikan secara satuan.

Contoh gampangnya seperti ini:  (m=melankolis; p=plegmatis; k=korelis; s=sanguinis)

Seseorang suka bekerja dengan teliti (m), suka menganalisis sifat – sifat seseorang entah itu dari gerak geriknya, maupun dari kebiasaannya (m), senang melihat dan mengawasi (p), bisa menjadi pendengar yang baik (m/p), suka menggunakan cara termudah dalam mengerjakan sesuatu(p), suka bersantai dan tempat penuh ketenangan (p), suka bereksplorasi dan bertualang ke alam (k), tenang dan tidak banyak omong (p), dan saebagainya......

Saking konsistennya jadi sering terbawa oleh pendapat yang dirasa sudah nyaman (m), kurang vokal menyampaikan pemikirannya yang dia yakin belum tentu benar (m), saking pentingnya hasil pekerjaan sering di cross check berulang kali (m), tidak suka melihat orang tidak bekerja sedangkan diri sendiri sedang bekerja keras dalam satu tim (k), emosi meledak – ledak melihat orang yang malas bekerja dalam tim (k), keras kepala dalam mempertahankan apa yang dianggapnya benar (k), dan banyak lagi.......

Hehehe.... sebenarnya itu hanya sedikt dari sifat – sifat ku sih.  Tapi coba dilihat, tidak ada yang benar – benar melankolis kan? Tidak mungkin seseorang 100% melankolis. Bahkan melihat gambaran diatas saja sifat – sifat ku cukup merata kan? yaaa kecuali sanguinis. Hehe entah ada di bagian mana sifat yang satu itu?

Aku berfikiran, karena sifat itu bisa diubah, dengan mengetahui bagian – bagian mana dari sifat buruk kita, kita bisa mengubahnya. Tentu dengan perjuangan berat. Hehe.. aku juga ingin sekali memunculkan sedikit sajalah sifat sanguinis. Aku selalu salut dengan orang yang punya banyak teman disana sini, aku anggap pasti pada bagian itu dirinya sanguinis. Tapi aku tidak suka dengan orang yang banyak omong dengan cerita yang tidak bermanfaat dan lelucon bodoh, terlalu berisik. Hehe maaf yaa? J

Kalau dalam tes kepribadian itu, sifat – sifat dijabarkan satu persatu. Melankolis dengan kriteria ini, ini, ini, blablabla...... korelis seperti ini blablabala.... kesalahan sebenarnya terletak di situ. Tidak jelas pada bagian mana sifatnya yang melankolis, korelis, plegmatis, atau sanguinis. Orang yang mengetahui secara sepihak akan mamandang secara parsial bahwa ooooo, si anu sifatnya seperti ini toohhh. Padahal yang mengetahui
sifat kita itu ya cuma kita sndiri kan? Mana ada orang yang seratus persen tau sifat kita yang sebenarnya, termasuk ibu kita. Kecuali Yang Maha Mengetahui tentunya.

Sekianlah pembahasan ini, mungkin takkan ada habisnya hal ini dibicarakan sampai kiamat nanti. Biarlah mau seperti apa anggapan orang. Yang tau dirimu ya hanya kau dan Tuhan. Itu sudah cukup.

Sunday, May 26, 2013

Pendidikan Tinggi - Saatnya Berbenah


Kepada seluruh seman – teman mahasiswa, para pejuang intelektual muda, tahukah kalian isu yang sedang berkembang tentang pendidikan tinggi kita? Aku harap kalian sudah lebih tau dari pada aku ya. Sebenarnya isu ini sudah cukup lama berkutat tiada habisnya. Diawali dari pengajuan judicial review oleh mahasiswa dari Sumatera barat yang memiliki anggapan bahwa UU No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi masih memiliki unsur komersialisasi universitas yang ujungnya akan membuat uang kuliah menjadi lebih mahal dan tidak terjangkau bagi rakyat menengah ke bawah.

Sedikit menelisik kebelakang tentang bagaimana keadaan pendidikan tinggi sebelum dikeluarkannya UU PT ini. Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT-BHMN) merupakan satu bentuk badan hukum Perguruan Tinggi di Indonesia yang telah dibentuk melalui PP Nomor 152-155 Tahun 2000 tentang pembentukan perguruan tinggi badan hukum milik negara (PT BHMN) yakni Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Institut Teknik Bandung (ITB), Univeritas Airlangga (Unair), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Sumatera Utara (USU). Pada tahun 2010 telah dihapuskan golongan perguruan tinggi BHMN atau badan hukum milik negara yang tujuan awalnya adalah untuk membantu perguruan tinggi memprivatisasi dirinya sejalan dengan dikeluarkannya UU BHP. UU BHP memberikana amanat bahwa penyeragaman lembaga pendidikan perlu dilakuakan, tidak hanya PT-BHMN diatas, namun seluruh aspek pendidikan hingga ke jenjang sekolah dasar. UU Badan hukum Pendidikan (BHP) yang umurnya sangat singkat ini di-ultra petitum oleh Mahkamah Konstitusi. “MK menilai, UU BHP bertentangan dengan UUD 1945 sehingga mengabulkan secara keseluruhan semua permohonan pemohon,” tegas Ketua MK Mahfud MD (31/3/2010). Amar keputusan MK antara lain:
  •           Tidak boleh menyeragamkan bentuk lembaga pendidikan
  •           Pemerintah tidak boleh lepas tanggung jawab keuangan terhadap lembaga pendidikan
  •           Tidak terjadi liberalisasi dan komersialisasi

Selama tidak adanya UU yang menaungi pendidikan tinggi selepas dimusnahkannya UU BHP ini, perguruan tinggi memakai aturan PP 154 yang umurnya hanya 3 tahun sejak ditetapkan yaitu pada bulan September 2010 dan akan segera berakhir di bulan September 2013, sementara itu UU PT sedang diperkarakan di MK yang tak kunjung terlihat adanya putusan.
Sebenarnya seperti apa UU PT itu? Apakah benar Undang – Undng ini masih bobrok sama dengan pendahulunya? Ataukah sebenarnya sudah sesuai UUD 1945, namun pengaju PK ke MK masih salah menginterpretasikannya?

Sebenarnya yang terutama dipermasalahkan yaitu adanya redaksi “Uang Kuliah Tunggal” atau UKT yang muncul dalam UU PT ini. Ada dua interpretasi yang muncul dalam redaksi ini. Pertama, uang kuliah disamaratakan nominalnya seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Kedua, penyebaran atau pendistribusian uang kuliah ke setiap semester tanpa adanya uang pangkal ketika mahasiswa pertama kali masuk perguruan tinggi.

Untuk kampusku sendiri, masalah ini sudah dari jauh hari terpecahkan. Sistem kami menganut pembagian standar uang kuliah menjadi 8 cluster. Pembagian ini dilakukan berdasarkan tingkat penghasilan orang tua. Dari kedelapan cluster ini akan terjadi sistem subsidi silang, dimana si kaya akan membayarkan jumlah uang kuliah lebih besar sesuai penghasilan orang tuanya, sedang kan yang kurang mampu membayar lebih sedikt. Namun, kekurangan pembayaran oleh orang yang kurang mampu akan disubsidi dari kelebihan pembayaran mahasiswa yang mampu tanpa adanya diskriminasi perlakuan apapun. Sistem ini menjadi role model untuk pembiayaan perguruan tinggi di Indonesia. Dengan adanya uang kuliah tunggal ini, IPB akan melaksanakan ketentuan tersebut dengan cara membagi rata nilai yang harus dibayarkan mahasiswa kedalam 8 semester, tanpa ada uang pangkal di tahun pertama yang notabene memberatkan mahasiswa di awal, sekaligus juga tetap menerapkan sistem 8 cluster subsidi silang yang sudah teruji sangat ampuh.

Sementara itu, melalui UU PT ini, pemerintah tidak bisa lepas tangan terhadap perguruan tinggi. Pemerintah akan menggelontorkan dana melalui Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) yang besarnya malah mencapai krang lebih 40 % dari kebutuhan dana perguruan tinggi. Jumlah tersebut terbilang sangat besar yang malah menjadi sumber dana terbesar bagi perguruan tinggi negeri, IPB contohnya. Hal ini juga memenuhi amar keputusan MK yang mengamanatkan bahwa pemerintah tidak boleh lepas tanggung jawab terhadap keuangan lembaga pendidikan.

Itulah sedikit gambaran permasalahan kampus saat ini, semoga saja para petinggi kampus kita selalu open mind terhadapa sesuatu yang baik, tidak selalu mempertahankan kebiasaan lama yang merugikan dengan alasan apapun. Begitu pula untuk mahasiswa sahabat – sahabaku, para pejuang intelektual. Kita harus lebih cerdas menafsirkan sesuatu, melihatnya dari berbagai sudut.

Semoga kita para pemuda - yang akan menglami demographic dividen terbesar, sementara itu negara – negara maju mengalami aging society - bisa terdidik dengan baik sampai ke jenjang perguruan tinggi. Inilah cita – cita kita untuk melejitkan bangsa kita yang sudah tertinggal cukup jauh dari bangsa lain.

Wednesday, May 22, 2013

Jalanan Setan


Sudah hampir 2 tahun penuh sejak menginjakkan kaki di kota hujan ini, tetapi kejengkelan itu sudah sejak lama meningkat menjadi rasa muak yang berlebihan. Tentang masalah apa sih sebenarnya? Kalau kita mau memperhatikan, mengamati, dan merasakan hal – hal kecil setiap harinya tentu kita akan mengerti, ini adalah persoalan sifat yang ditunjukkan masyarakat di jalanan ketika berkendara.

Seperti ini gambarannya, aku heran kenapa orang – orang disini memacu kendaraannya dengan kecepatan yang terbilang tinggi di jalanan ramai, ketika pagi hari, ketika disitu juga banyak pejalan kaki lalu – lalang?Pengamatan ini aku lakukan di daerah sekitar kampus. Aku tau, pasti banyak alasan yang melatarbelakangi hal itu. Ada yang bilang “biar ga terlambat kerja dek”, “jaraknya jauh, jadi bisa menghemat waktu dengan kecepatan tinggi”, “biar ga kejebak macet”. Iya memang, alasan mereka itu masuk akal, tapi apakah harus mengorbankan hak pengguna jalan lain, khususnya pejalan kaki? Kalau diamati lebih dalam lagi, kendaraan yang mereka pacu dengan kencang, seringkali tidak mengindahkan adanya pejalan kaki, atau motor yang hendak menyebrang jalan, sehingga ketika laju kendaraan di jalur utama yang cepat tidak bisa dibendung maka jadilah kami para pejalan kaki tertindas, sulit dan mengerikan untuk menyebrang pada kondisi seperti itu. Kenapa mereka sedikitpun tidak menghargai keberadaan pengguna jalan lain?

Lain halnya dengan angkot – angkot yang seperti tidak menghiraukan hal lain selain setoran dan ini sering kali membuat kepalaku panas. Musuh terbesar para pengguna sepeda motor adalah kendaraan ini. Kenapa? Karena mereka sering kali berhenti mendadak, tidak memminggirkan angkotnya, tetapi malah memberhentikannya di tengah jalan. Bahkan mungkin angkot adalah musuh terbesar setiap kendaraan lain yang ingin melintas ketika jalur mulai ramai di pagi hari atau sore hari. Urusan mereka menunggu pelanggan (ngetem) di simpang dan badan jalan tidak bisa dipungkiri lagi sebagai penyebab utama kemacetan. Sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah ketika yang ngetem hanya 2 atau 3 angkot saja, masalahnya volume angkot yang bertengger di badan jalan sudah melebihi batas kewajaran. Polisi pun sudah tidak mampu untuk menertibkan ke-dogolan otak para supir angkot itu untuk tidak ngetem di badan jalan. Untuk apa ditertibkan sebenarnya kalau tddak ada solusi yang bisa diberikan pada mereka?

Sialnya, jalanan bogor sebenarnya tidak mendukung keberadaan para angkot ini. Coba lihat saja lebar jalan yang hanya bisa dimuat untuk 2 lajur tetapi dipaksakan untuk diperlebar secara tanggung. Satu lajur lebarnya menjadi sekitar 1 ½ badan mobil. Maka jadilah penumpukan kendaraan yang tidak sabar untuk mengantri di kemacetan. Kebanyakan dari mereka yang tidak sabar, tidak menyadarinya bahwa menyalip kendaraan didepannya ketika macet, membuat lajur yang sempit menjadi tumpang tindih, malah akan memperparah kemacetan dan memperlama mereka untuk berada di jalanan. Miris sekali melihat orang yang mematuhi aturan, mengantri dibelakang dengan sabar, tetapi hak – haknyalah yang justru tergilas.

Fenomena ini tentu tidak hanya terjadi di kota bogor saja, ketertiban pengguna jalan yang terlampau lemah juga terjadi di kota – kota lain yang padat penduduknya. Dari sini sebenarnya dapat dilihat bagaimana sifat individualis, sifat egoisme telah merasuk ke dalam sel – sel terkecil masyarakat kita. Menghormati hak orang lain kan tindakan mulia kan? Iya kan? Tetapi kenapa kita sulit melakukannya? Masa para supir angkot hanya mementingkan kejar setoran saja sih? Bagaimana dengan orang lain yang yang kesal akibat perbuatannya membuat jalan menjadi macet? Apa para pengendara mobil dan motor yang lain tidak bisa memperlambat lajunya ketika melihat orang yang hendak menyebrang?

Mungkin aku melihat kota ini dengan perbandingan kota ku yang kecil, laju pergerakan masyarakatnya tidak secepat disini. Mamang salah juga.  Namun keadaan kotaku yang lebih banyak pengendara memacu kendaraannya dengan lambat, menikmati keadaan kota sambil berkendara, menghentikan laju kendaraannya ketika ada pejalan kaki yang ingin menyebrang, atau memberi kesempatan bagi yang ingin cepat untuk mendahului merka yang berjalan lambat. Sungguh damai bukan kota ku? Beda memang kondisi kotanya. Beda memang kebutuhannya akan mobilisasi. Tapi aku mengagumi sikap mereka yang arif ketika berada di jalanan. Tidak seperti pengeang ndara kelihatan terbirit - birit dikejar setan.

Yah, semoga saja ada pembaharuan yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini baik dari pemerintah, maupun masyarakatnya. Hidup Rakyat Indonesia!

Thursday, May 16, 2013

Indonesian's Epic Tetralogy (Part 1)

Siapa yang tidak kenal dengan Tetralogi Buru yang di bukukan dari tulisan maupun lisan oleh seorang maestro Indonesia, yap. Pramoedya Ananta Toer. Saya yakin sebenarnya masih banyak kalangan yang mengaku terpelajar tetapi tidak mengetahui karya besar anak bangsa ini.
Bahkan seharusnya, karya - karya beliau dijadikan bacaan wajib, setidaknya di sekolah menengah atas lah, seharusnya, buku - bukunya juga tersedia di setiap perpustakaan di negeri ini. Miris sekali rasanya, melihat kampusku tidak memiliki koleksi hasil karya beliau.

Selama 10 hari penuh, aku baru bisa menyelesaikan dua bukunya, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.




Bumi Manusia

Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana;biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput

Ceritanya berkisah pada seorang pemuda yang bernama Minke. Latar suasana yang dibangun dalam cerita ini yaitu pada tahun 1890-an, masa transisi abad 19 ke abad 20 di daerah Jawa, tepatnya Surabaya. Minke yang mendapat kesempatan bersekolah di HBS-sekolah belanda-karena ayahnya adalah seorang bupati di suatu daerah, menjadikan dia dekan dengan ilmu, tata cara, dan daya pikir orang – orang eropa. Saya tidak akan menceritakan dengan jelas siapa-siapa saja tokoh yang masuk dan keluar di dalam kisah seorang Minke ini. Bagian yang paling utama adalah kisah cintanya dengan seorang gadis, Annelies Mellema, peranakan dari bapak Belanda bernama Herman Mellema yang memiliki perusahaan pertanian Boerderij Buitenzorg dengan seorang Gundik yang bernama sanikem, atau lebih dikenal dengan Nyai ontosoroh.
Nyai Ontosoroh disini juga memainkan peranan penting, tidak berskolah namun memiliki pengetahuan yang begitu luas. Hanya seorang gundik namun mengenal kesopanan dan tata krama yang baik. Pemikirannya luar biasa untuk seorang wanita di zamannya. Disini Pram menggambarkan bahwa dengan belajar dan mencari ilmu dimanapun akan sangat berguna untuk mengubah nasib.

Kisah percintaan Annelies dan Minke terhalang ketika anak sah tuan Mellema meminta haknya sebagai anak yang ditinggalkan bersama
dengan ibunya di Netherland.
Sangat panjang dan sulit perjuangan yang harus ditempuh Minke dan sahabat-sahabatnya untuk mempertahankan Annelies yang harus dipisahkan dengan Minke ihwal perwalian yang diharuskan oleh hukum Netherland. Pram menuliskan kisah ini sangat jelas dan mendetail dengan gaya bahasanya yang khas, mendeskripsikan sesuatunya sampai sebenar-benarnya bagaikan saya hadir menyaksikan kesusahan yang dialami Annelies dan suaminya Minke.

Silahkan saja teman – teman membacanya. Entahlah, lebih baik menurut saya dibilang saja WAJIB DIBACA oleh setiap orang yang mengaku terpelajar. Tidak, tidak, ini seharusnya menjadi bacaan wajib setiap rakyat Indonesia. Biar mereka mengenal, dan mengenang, bahwa kehilangan seorang Pramoedya Ananta Toer, adalah kehilangan besar bagi Dunia.


Anak Semua Bangsa

Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas

Di buku kedua ini dicertakan tentang kepergian Annelies ke Netherland, hingga harus menghembuskan nafas terkhirnya disana, hanya beberapa hari setelah ia berlabuh.

Tak ayal hal itu sangat memukul Nyai dan Minke beserta para sahabatnya. Singkat cerita lagi, nyai dan Minke pergi ke kediaman nyai dulu sebelum ia dijadikan gundik. Disinilah pokok permasalahan pada buku ini. Minke harus menyadari bahwa ilmu yang dimiliknya hendaknya digunakan untuk membantu bangsanya sendiri. Minke sendiri telah banyak menulis di surat kabar dengan bahasa belanda, namun tidak pernah dengan bahasa bangsanya. Disini ia harus berjibaku dengan beragam pemikiran yang dari semua sisi menekannya untuk bisa melihat kenyataan bahwa bangsanya harus bisa hidup mandiri tanpa adanya campur tangan dari belanda. Banyak berkaca dari bangsa jepang yang telah disejajarkan dengan bangsa eropa, serta pemberontakan Jose Rizal kepada kolonial spanyol di daerahnya, Filipina.

Namun kisah mengenai dirinya dan keluarganya di Wonokromo belum juga terhapus benar. Anak sah Herman Mellema masih ingin untuk mengambil alih perusahaan yang telah di bangun oleh nyai selama ini. Persidangan tentang kematian Tuan Mellema pun tak kunjung selesai.

Buku ini menceritakan bahwa kondisi saat itu merupakan titik balik yang ditempuh oleh kalangan terpelajar bangsa untuk bisa berdiri sendiri, menghapuskan penjajahan dari bumi pertiwi, berdiri, dan menyejajarkan diri mereka dengan bangsa kulit putih yang selama ini telah merongrong 300 tahun.

Masih ada 2 buku lagi yang belum sempat aku baca. Semoga di kesempatan berikutnya, resume 2 buku epic tetralogy lainnya yaitu Jejak Langkah dan Rumah Kaca, bisa aku sajikan dengan lebih baik. Semoga timbul minat para pemuda bangsa ini untuk lebih rajin lagi membaca, mencermati karya – karya luar biasa anak-anak bangsa ini. Semoga karya yang ciptakan ini menjadi amal yang tiada putusnya bagi mu, Pramoedya Ananta Toer. Semoga damai disisi-Nya.
Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 – 30 April 2006)