Wednesday, December 31, 2014

Perjalanan tiga setengah tahun (Part 1)

Bismillah..

Lama sekali sejak terakhir aku meninggalkan jejak di sini..
Hmm..

Ohiya, salam dari ku, Mahasiswa Umum.

21 Desember 2014, terakhir kali aku berperan sebagai elit politik (ceilahh.. :p) di organisasi mahasiswa kampusku, seusai memimpin sidang dan mengurusi semua keperluannya, sah lah sudah titel mahasiswa umum ku sandang, bersama dua orang lainnya, my partner in crime, moga kita bisa wisuda bareng yak… :D

Kira-kira 3 setengah tahun yang lalu aku memberanikan diri… mencoba hal baru yang disebut “keluar dari zona nyaman” oleh orang-orang hebat waktu itu. Memang di SMA dulu aku bukan apa-apa. Paling pinter engga, juara-jura perlombaan engga, apalagi jadi pimpinan organisasi, malas baca buku pun, kerjaannya main mulu.. kata orang-orang hebat waktu itu, sayang banget waktunya ga bermanfaat.

Hmm.. ada pamflet pendaftaran DPM TPB kulihat di mading asrama. Mesti mengumpulkan foto kopi KTM dari teman-teman di kelas sebagai symbol keterwakilan kita di kelas itu. Enggan sih awalnya, ribet, males. Tapi ada yang menarik… apasih DPM? Kalau BEM sudah sering ku dengar bahkan ketika SMA dulu. Aku bulatkan tekad untuk mengikuti seleksinya. Mengumpulkan berkas-berkasnya yang kupikir cukup sulit untuk dipenuhi namun ternyata bisa. Hehe.. dengan bekal pengetahuan seadanya melihat struktur pemerintahan Indonesia, hipotesis waktu itu ya DPM = miniature DPR. Begitulah..


Seleksinya cukup ketat broh.. banyak yang gugur. Tahap akhir sekitar 50an orang diterjunkan sebagai panitia pemilihan raya wilayah TPB 2011, mengurusi pemungutan suara di TPS Asrama. Debut pertama di IPB. Hehe.. sumpah… adrenalin ku meledak.. :D
Banyak teman baru yang ku temui.. seorang pemimpin yang luar biasa juga aku temui di divisi ku saat itu. My friend. :)

Banyak yang gugur dalam seleksi ini, dipilih secara natural memang yang mau belajar. Bukan yang sudah hebat, atau merasa dirinya hebat. Aku, saat itu sebagai yang terpilih diantara 33 orang hebat lainnya. Entahlah aku tak tau bagaimana penilainanya sehingga aku terpilih, tapi gerbang ini lah yang mengantarkan aku sampai ke titik ini. Titik yang kupikir tak bisa terjamah.

Terimakasih kepada Allah yang telah menggerakkan mereka, kakak-kakak DPM TPB 47 hingga membukakan kesempatan besar buat ku. Terimakasih.


mumpung masih muda, dan mumpung masih ingat, ada quote yang tajam dari sang maestro,
“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri” ― Pramoedya Ananta Toer
haha...
salam hangat untuk cuaca dingin diluar sana
dramaga, di penghujung 2014

...bersambung..

Monday, September 15, 2014

Gondrong

terkadang aneh rasanya ketika orang lain sibuk mengurusi rambut ku...

"potonglah rambutnya.. semak lihatnya"
"itu hutan diatas kepala diurus dulu"
"kamu itu panutan, berilah contoh yang baik"
"gua ga suka lihat rambut ga rapih begitu"
"mau kapan rambutnya di pangkas sal?"
"pangkas sih kak rambutnya, kalo ga dipangkas nanti kami belikan jilbab ya?"

dan banyak lagi komentar serupa, mulai dari yang halus menyindir sampai meringis kesal dan geram, mungkin ingin menjambak atau mencabut rambutku dari akarnya? hehe... ga ngerti lagi..

ya begitulah,
padahal urusan meumbuhkan rambut adalah urusan orang yang memiliki rambut diatas kulit kepalanya, bukan soal orang yang memandangnya. oke... baiklah jika argumennya adalah aturan yang mengikat, aku mengerti tentang aturan-aturan yang berlaku, tapi untuk aturan rrambut harus pendek itu... rada konyol bukan sih?

dari SMP, SMA, selalu aku menjadi buronan jika dihadapkan dengan pemeriksaan rambut. di SMP rambut haruslah pendek, cepak kalau perlu. sedikit saja panjang, pastilah gunting sang guru penegak disiplin mendarat dan menyasar bagian rambut kepala secara asal. sompel lah setiap ada pemeriksaan berkala. santai saja, tinggal dirapihkan, tunggu sebulan udah panjang lagi :p

masa SMA pun tak beda jauh, hanya saja tidak secara berkala dicek. lebih parah lagi, sang guru penegak disiplin selalu membawa gunting rambut di kantong celananya, bahkan ketika istirahat. ya sudah... seringlah aku tertangkap olehnya dan diberikan sompelan asal di rambut ku. tapi mulai SMA aku jadi sedikit lebih penurut. tapi tetap saja, masih terhitung sering di tindak langsung soal rambut ini.

sampai lah aku di masa perkuliahan, ada aturan yang melarang rambut panjang. hanya sekedar ada. tak ada lagi sang guru penegak disiplin itu disini. meskipun ketika ospek rambut harus di pangkas pendek, namun setelah itu akhirnya aku bisa bebas memanjangkan rambutku sesuka hati. memangkasnya kapanpun aku mau. bukan karena orang berkata apa..

"emangnya kenapa kalo rambut ku panjang?"
"malah ada ko yang tidak merasa terganggu dengan rambutku, bahkan suka" :)

Aku tak mau bahas soal persepsi bahwa rambut pendek bagi laki-laki akan terlihat lebih rapi ( ya memang ), sedangkan rambut panjang seperti tak terurus, ribet, tak berbudaya, slang... daahh.. dan lain lain lah. Yaaa itu terserah persepsi masing-masing aja. Rambut panjang bagiku adalah alat untuk menentang persepsi seperti itu.

kalau sudah saatnya dipangkas ya bakal dipangkas... hehe

Saturday, August 2, 2014

Memperlambat Waktu

Sudah kubilang aku sedang malas untuk tidur

tidur itu adalah alat mempercepat waktu, sedangkan terjaga adalah penghambatnya.
aku berharap bisa sedikit tidur, lebih banyak waktu yang akan bisa digunakan...
untuk berdoa,
untuk berfikir,
untuk bekerja...

karena setahun akan terasa begitu cepat bila melaluinya tanpa apa
karena setahun akan terasa begitu lambat bila melaluinya pula tanpa apa
karena setahun akan terasa begitu bermakna bila melaluinya dengan suka, harap, kerja, dan doa.

sudah cukup tidurnya..

bismillah

pagi :)
Kisaran, 1.40 am

Sunday, June 29, 2014

Angkot, antara Subang dan Bogor

Assalamualaikum wr.wb.. 

Subang dan Bogor sama-sama daerah kabupaten, namun Bogor memiliki wilayah kota yang dipimpin oleh walikota sedangkas subang memiliki kota yang dikelola sepenuhnya oleh kabupaten. 

Subang... yup.. kota yang bersahaja ini sangat damai sepertinya. Waktu bisa berjalan lambat di sini. Berbeda dengan bogor yang tiap detiknya begitu berharga, begitu cepat denyut nadinya. 


Yang ingin aku soroti adalah soal angkot, yaelah... semua orang juga udah pasti tau gimana angkot bogor. Tapi siapa yang tau angkot subang? Prilaku supirnya? Panjang trayeknya? Sebagai perbandingan saja, maka aku ambil kota bogor yang telah kurang lebih 3 tahun aku kenal. 

Angkot subang yang baru aku tau hanya angkot dengan trayek berikut ini: 
1. Sadang-kalijati, 
2. kalijati-subang 
3. subang-kalijati-purwadadi 

dan ditambah beberapa bus ¾ yang selalu melintas yang volumenya lebih banyak ketimbang volume angkot. 

Dari subang ke sadang maksimum pukul 8 (kalau tidak bisa nginep di masjid hehe...) dan dari arah sadang ke subang maksimum pukul 10, kalau untuk jalur ini masih banyak juga bus besar yang melintas hingga pukul 10 malam itu. Sekali perjalan maksimum dari awal sampe akhir trayek kita harus mengeluarkan kocek sebesar Rp.5000 baik dengan bus atau angkot. 

 Okeh, kita fokus pada ketiga trayek angkot itu saja ya... kalian tau berapa jarak Sadang hingga kalijati? 25 Km broo... kalo di google map sih katanya bisa ditempuh selama 26 menit. Tentusaja dengan asumsi kemacetan 0%. nonsense lah kawasan insdustri tidak macet. Belum lihat sebesar apa truk-truk yang melintas. Yahh... sebesar Optimus Prime dengat perangkat senjatanya lengkap mungkin dikali puluhan Optimus Prime lainnya. Sungguh harus bersabar. 

Sedangkan kalijati-subang sejauh 26 Km. Hmm bagaimana dengan subang-kalijati-purwadadi? 26+12 Km = 38 Km. Bayangkan mereka harus bolak-balik melalui jalur yang sama? Semua dengan kondisi yang sama. Macet di jam berangkat kerja sekitar pukul 7-9 pagi dan pulang kerja sekitar pukul 5-6 sore. Sisanya.... sepi bung. Bagaimana dengan setoran supir-supir angkot itu? Satu dua penumpang selain di jam sibuk itu tentu tak cukup menutupi biaya operasional mereka terutama BBM. 

 Bayangkan perbedaannya dengan Bogor yang jam sibuknya hampir setiap waktu, dari pukul 5 pagi sampai pukul 10 malam, angkot-angkot pun masih penuh didesaki para penumpangnya. 

 Walau bagaimanapun para supir angkot di Subang sangat aku acungi jempol ketimbang Sopir angkot di Bogor. Bagaimana tidak? Mereka sangat tidak agresif mencari penumpang. Sangat sabar dan ramah. Yang pasti mereka selalu patuh untuk mengantarkan penumpangnya meski dari ujung ke ujung trayek, meskipun hanya satu orang penumpang yang diantar, dengan bayaran selembar uang 5000, sambil sabar mencari penumpang dijalan dengan kecepatan sedang. 

Itu terjadi pada ku, perjalanan dari subang ke kali jati pukul 7 malam. Sudah tak ada orang lagi yang menunggu di tepi jalan yang ingin bepergian dan menyetop angkot. Sudah tak ada. 

Hanya aku dan pak supir bercerita panjang tentang kehidupannya yang begitu sulit, ditemani lagu-lagu dari transmisi radio kota Subang. 

 Aku tak ingin mengomentari bagaimana tabiat angkot bogor yang aku pikir jelas-jelas pemasukan mereka juga lebih besar tentunya ketimbang para supir di Subang ini. Meski aku tak tau pasti berapa setoran yang harus merka bayar. Mungkin lebih tinggi dari para supir angkot di subang. Mungkin karena juga saingan yang begitu banyak juga menyebabkan mereka bersikap dan bertabiat seperti itu? Agresif. 

 Mungkin para supir angkot bogor harusnya lebih banyak bersyukur bila mereka tau betapa pahitnya menjadi supir angkot di kabupaten subang. 

 Wassalam. 
Selamat menunaikan ibadah Shaum Ramadhan. Khusus bagi para supir angkot yang selalu bekerja keras menyambung kehidupan mereka, untuk istri dan anak-anaknya dengan rezeki yang halal. 
Salut for them.. :)

Sunday, June 22, 2014

Bersyukur dan Bersabar

Assalamualaikum wr wb

Setelah lama sekali tidak menulis, aku kumpulkan sedikt mood yang tercecer berantakan untuk menulis kembali. Sebenarnya bukan tidak pernah menulis lagi sepanjang rentang waktu dari postingan terakhir. Bahkan tergolong banyak ide yang keluar, aktivitas yang menarik, apalagi beberapa agenda luarbiasa yang telah aku lakukan, namun belakangan aku sedikit menyimpan cerita cerita indah itu untuk ku sendiri, dan yang mengalaminya bersama ku. Biar saja, sedikit pelit kan boleh? Hehe..

Yup.. hari ini memang bukan pertama kalinya menginjakkan kaki di Subang, tetapi ini hari pertama dari hitungan hari perjuangan Praktik Lapangan.

Bersyukur, adalah hal selalu harus dilakukan setiap orang mestinya, termasuk aku dalam Praktik Lapangan ini. Tentu saja bersyukur adalah hal yang paling aku utamakan. Sampainya aku disini semua adalah jalan-Nya, semua adalah karena bimbinganNya. Setelah berusaha mencari-cari perusahaan yang bersedia menampung kami menimba ilmu, berdoa juga tak luput dilakukan tiap waktunya. Sampai pada akhirnya terjawablah semua kegelisahan itu. Bersujud, menengadahkan tangan, bibir dan hati yang tak henti berterimakasih padaNya, bersyukur.

Allah menjawab semuanya dengan lantang. Menakdirkan kami berada di sini. Yap.. bersyukur, tiada yang lain.

Nah, ujian baru saja dimulai sob. Rumah, jauh lebih nyaman dari pada bogor, bogor jauh lebih nyaman dari pada disini. Kemudahan yang kita dapat di sekitar kampus, tak serta merta kita dapatkan di tanah perantauan ini. Jauh dari keramaian, sulitnya akses transportasi, kemudahan mencari barang-barang kebutuhan sehari-hari, itu lah kenyataan yang harus disyukuri di tempat ini, bersabar jawabannya.
 
Bersabar pada hal yang tak mudah kita terima tentu harus diawali dari bersyukurnya kita berada di tempat ini.

Yah… kalau dibandingkan dengan teman-teman yang lebih berada di tempat yang terpencil, bahkan untuk akses komunikasi juga sulit, tempat ini masih jauh lebih nyaman tentunya.

Tapi apalah arti sebuah kenyamanan, tanpa ada rasa syukur dan sabar yang menyertainya. Karena kenyamanan bukan hanya soal senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, tetapi bersyukur atau tidakkah kita disini? Bersabar atau tidakkah kita disini? Dibalik segala kelebihan dan kekurangannya.

Umar bin Khatab r.a. berkata : “andaikata sabar dan syukur itu adalah dua kuda tungangan, maka aku tak peduli mana saja diantara keduanya yang aku tungangi.”


Sabar dan syukur adalah suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Begitulah adanya. Tak ada yang perlu dipersoalkan lagi sebenarnya. So, be it.. I'll fight for this. I'll take care of it. InsyaAllah..

salam dari Subang. :)

Desa wantilan, Kecamatan Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat
-6.501453, 107.604643

Monday, May 19, 2014

Baduy, Struggle in Purity from Impurity

Ini semi backpacer yang adanya cuma melalui open trip to baduy dalam.
Ini keakraban tiada tara bagi kelima pejuang tapak kaki yang ledes dimakan jalan setapak.
Ini adalah penelusuran jalan setapak yang tak lagi berukuran setapak.
Inilah baduy dalam.

Dibalik perjalanan ini hanya kita dan Tuhan yang tau sesuatu terjadi sebelumnya. Titik kulminasi yang tak disangka sangka akan hadir begitu luar biasanya. Takkan kubiarkan ia terluap disini, biarlah cukup di benak ku dan dirimu saja.

Perjalanan ini punya begitu banyak cerita yang tak bisa aku jabarkan setiap detiknya. Biarlah bagiku dan bagi kami saja yang menapaki perjalanan ini, kemudian menyimpannya dalam tiap sel tubuh beriringan dengan rasa nikmatnya perjalanan. Tapi aku ingin membagi sedikit ketakjuban sekaligus kegelisahan terhadap baduy dalam kita.

Tak banyak suku-suku pedalaman khususnya di pulau jawa yang masih bertahan akan tradisi dan adatnya yang luhur. Tak banyak yang selamat mempertahankan kearifan mereka ditengah hantaman modernisasi yang begitu melukai mereka. Baduy salah satunya, teguh bertahan meski tak pelak goyah diserbu pendatang.
Termasuk perjalanan kami ini pun aku yakin melukai mereka perlahan.

Aku ingin menyoroti sifat mereka yang begitu teduh, menerima tamu dengan begitu hangat. Melayani bagai sudah ada jalinan persaudaraan. Padahal kenal nama kami saja pun tidak, nama mereka pun kerap lupa dalam ingatan, kerap sulit membedakan mereka satu dengan yang lain. Memang beberapa terlihat mirip. Yah.. memang karena tradisi mereka yang menjodohkan anaknya dengan sesama penduduk baduy dalam juga. Maka jadilah gen yang terus berputar di komunitas itu-itu saja.

Sepanjang perjalanan seringkali aku perhatikan gelagat mereka. Terutama yang tua dan yang anak-anak. Seperti masih benar-benar murni dan belum terpengaruh banyak hal dari luar. Kalau yang remaja dan umur 20an itu sudah bukan baduy dalam hati mereka. Aku yakin mereka ingin bebas. Kitalah racunnya. Sang bapak yang sudah beruban masih kuat dan masih tahan berjalan panjang. Beberapa orang dalam kelompok open trip ini kadangkala mengomentari tentang bentuk kaki, ukuran badan, otot, pergelangan kaki, tapaknya dan lainnya di depan mereka langsung. Aku pikir itu sangat tidak etis. Mereka juga manusia. Aku sempat mendengar kata-kata sang bapak, “ah.. bapak malu nak seperti ini”, sambil melihat ke arah kakinya. Tega kah kalian berbicara mengenai keunikan mereka di telinga mereka?

Celotehan-celotehan lain yang terkadang membuatku risih. “mereka jalan begitu kuat, bahkan tanpa minum juga sanggup”

Aku menawari sang bapak minum, beliau malu menerimanya. Aku perhatikan bibirnya yang kering. Nafasnya pun tersengal. Sambil ragu mengambil tawaranku, akhirnya di tuangkannya setengah botol minumku pada botolnya. Pun diserahkannya lagi pada anaknya. Begitu lembut dan penuh kasih. Bagaimana tanggapan mu pada celotehan diatas seperti membicarakan mereka bagaikan makhluk lain yang berbeda dari manusia? Begitu kerdil otaknya. Begitu lemah perasaannya.

Di hari pertama, jumat malam. Suasana begitu sepi.
Mereka begitu menyukai ikan asin, bahkan ketika ada seorang dari rombongan kami yang salah membawa ikan sebagai oleh-oleh untuk mereka, tampak kekecewaan yang sangat dalam di wajah mereka sekeluarga. Bagaikan tak kebagian emas dari jarahan perang. Apakah hanya karena ikan asin ini wahai saudara ku baduy, kalian menggadaikan wilayah kalian untuk di jamah orang-orang kota ini? Semakin banyak lagi yang datang di hari sabtu. Perkampungan sudah seperti kamp pengungsian masyarakat kota dari kepenatan mereka sehari hari. Membawa beban pada sang baduy yang arif.

Apakah teknologi yang kita miliki dibutuhkan oleh mereka? Tidak. Beratus tahun mereka seperti itu. Tak ada masalah. Mereka hanya ingin dibiarkan. Biarkan kedamaian melingkupi desa cibeo. Biarkan kemurnian itu tetap murni seperti itu. Racun racun yang datang berkedok sebagai tamu tak usahlah dibiarkan masuk. Meminjam kata-kata dari NatGeo : mereka terlalu sopan untuk menolak kedatangan kita. Ah.. kenapa kau begitu baik.

selesai.

salut for them. little heroes from baduy dalam.

-Faisal, Rizqah, Umil, Ratna, Tino-

Sunday, April 20, 2014

The Whisper Below Night Sky

Late night below the starry sky
Below the moon light and scorpion constellation at ease.
In the crowd and conceited chit-chat from every people about them and the night.
I prepared my bag, set it as a pillow, so soft... and laying there. In the deep of my thoughts.

It feel so cold..raging to my bones.
The wind flattering my face. And the stars above there... just sparkled down, like they're always happy and pretend nothing really matter happned upon the earth.

But you know? There is a wishper that took me out from myself.

So, I closed my eyes. Trying to understand their language.
Not even a single second I missed.
I put my ear. Trying to listen their whisper.
Only to know... the disenchantment.

The earth still rotating.. the sun would came soon.
The dawn would be so beautiful. But I decided not to see it.
I need to see deep down in my heart. To look for what the whisper said.

So I went with the cold wind carrying me.
And the beautiful dawn, raising from my back.

-fp-

Saturday, April 5, 2014

My Precious Gift-Mother

Assalamualaikum wr. wb.

semoga umi selalu berada dalam lindungan Allah SWT.

Umi berulangtahun hari ini. Bukan aku yang menelepon umi, malah umi yang menanyakan kabarku. Bagaimanalah aku ini?

Umur ku sekarang 20 tahun, mendekati 21. Sudah bisa memberikan kebanggaan apakah aku kepada umi?

Cita cita yang pasti dimiliki semua anak di dunia untuk membahagiakan orangtuanya, bisakah aku lakukan?

Terlepas dari hal itu semua, umi adalah anugrah terbesar yang diberikan Allah kepada ku. Lahir dari rahim umi, diasuh, dibesarkan, dijaga dengan sepenuh kasih dan jiwa umi memang takkan terbalaskan olehku seandainya pun aku diberi Allah umur 1000 tahun untuk melunasinya. Tapi umi pun tak mau mengharap balasan, selalu ikhlas dan sepenuh hati. Prinsip umi yang mengutamakan kami anak-anak umi ketimbang diri umi sendiri selalu membuat ku merinding. Totalitas kasih sayang yang umi berikan meresap bahkan sampai ke elektron terkecil dalam tubuh ku.



Suara nyanyian dodoi si dodoi waktu umi menidurkan aku di atas ayunan masih lekat sekali di ingatan, terasa deras terdengar di telinga. Pun suara dan langkah kaki mu yang selalu membangunkan aku di setiap pagi. Cerita – cerita perjuangan umi mengasuh ku sewaktu memori pun belum terbentuk di dalam otakku selalu ingin buat aku menangis.  Betapa nakalnya anakmu ini bahkan ketika di dalam rahim. Namun umi selalu tersenyum mencertakannya, serasa itu bukanlah sebuah kesulitan, bahkan suatu kebahagiaan. Tak berani sedikitpun aku melukai perasaan umi. Maafkan anakmu bila pernah membuatmu marah, membuatmu menangis, membuatmu kecewa.

Semoga umi sehat selalu, semakin kuat ibadahnya. Umi kan sudah tidak muda lagi, sudah sepatutnyalah aku yang menjaga umi. Tekadku sudah sebesar bola salju yang turun dari atas gunung, selalu membesar setiapharinya, untuk bahagiakan umi. Doa yang umi panjatkan buatku setiap helaan nafas umi, pastikan terbalas oleh doa yang lebih besar dari anak umi ini setiap detiknya.

Selamat ulang tahun umi. Maaf tak bisa hadir di sisi umi. Hanya tulisan yang bisa aku abadikan untuk umi. Namun tulisan pun tak lebih abadi ketimbang cinta yang selalu meluap dari dalam hati ku untuk umi seorang.

Salam dari kota hujan.


Salam takzim buat umi.

Monday, March 31, 2014

Posting Tugas (1)

hehe.. salah satu dari sekian tugas mata kuliah Analisis Sistem Pengambilan Keputusan (ASPK) yang cukup membuat berisik teman-teman seangkatan mencari tau bagaimana untuk menyelesaikannya. yah, inilah tugas pengambilan keputusan berdasarkan sistem voting.

sebenarnya yang dipersoalkan adalah tidak jelasnya outline tugas itu sendiri. apa-apa saja yang harus dicari dan apa yang harus dikerjakan. karena instruksi dari dosen pun memang sebatas kata-kata saja. jadi wajarlah kalo aku pun tak terlalu ambil pusing untuk tugas ini. just do it.

ini hasil kerjaan ku. :D disuruh cari data tentang hasil pemilihan umum 2009. trus tentukan berapa kursi yang didapat partai peserta pemilunya.

lets see.

Hasil Pemilihan Umum DPRD Kabupaten Asahan
Daerah Pemilihan Asahan I (Kecamatan Kota Kisaran Barat-Kisaran Timur)

Jumlah Kursi tersedia untuk Dapil Asahan I : 9 Kursi (lampiran Keputusan KPUD Asahan)

Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) = 57441 (suara sah hasil pemilu)



No
Nama Partai : Nomor Urut Partai
Jumlah suara sah
*diurutkan dari yg terbanyak
Kursi tahap I
Sisa suara
Kursi tahap II
1
Partai Golkar : 23
8911
1
2529
1
2
Partai Demokrat : 31
8105
1
1723
1
3
Partai Amanat Nasional (PAN) : 9
7530
1
1148
1
4
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) : 24
4882
0
4882*
1
5
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) : 8
4096
0
4096*
1
6
Partai Bintang Reformasi : 29
3576
0
3576*
1
7
Partai Damai Sejahtera : 25
3279
0
3279*
1
8
Partai Gerindra : 5
3219
0
3219*
1
9
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) : 28
2832
0
2832*
1
10
Partai Patriot : 30
2674
0
2674
0
11
Partai Peduli Rakyat Nasional : 4
1527
0
1527
0
12
Partai Karya Perjuangan : 17
1195
0
1195
0
13
Partai Hanura : 1
1074
0
1074
0
14
Partai Matahari Bangsa : 18
667
0
667
0
15
Partai Kedaulatan : 11
449
0
449
0
16
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) : 13
397
0
397
0
17
Partai Bulan Bitang (PBB) : 27
352
0
352
0
18
Partai Barisan Nasional : 6
335
0
335
0
19
Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) : 16
318
0
318
0
20
Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) : 2
308
0
308
0
21
Partai Penegak Demokrasi Indonesia : 19
272
0
272
0
22
Partai Merdeka : 41
229
0
229
0
23
Partai Nasional Banteng Kerakyatan Indonesia : 26
199
0
199
0
24
Partai Keadian dan Persatuan Indonesia : 7
186
0
186
0
25
Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) : 34
180
0
180
0
26
Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK) : 20
154
0
154
0
27
Partai Kasih Demokrasi Indonesia : 32
148
0
148
0
28
Partai Indonesia Baru : 10
108
0
108
0
29
Partai Pemuda Indonesia : 14
80
0
80
0
30
Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PNUI) : 42
80
0
80
0
31
Partai Buruh : 44
48
0
48
0
32
Partai Pelopor : 22
31
0
31
0
33
Partai Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia : 3
0
0
0
0
34
Partai Persatuan Daerah : 12
0
0
0
0
35
Partai Nasional Indonesia Marhaenis : 15
0
0
0
0
36
Partai Republik Nusantara nomor 21
0
0
0
0
37
Partai Indonesia Sejahtera : 33
0
0
0
0
38
Partai Syarikat Indonesia (PSI) : 43
0
0
0
0
Total Suara Sah/ Bilangan Pembagi Pemilih (BPP)
57441
3
33413
9


Sumber data perhitungan suara:    LAMPIRAN DB-1 DPRD KABUPATEN ASAHAN 2009
Sumber penentuan jumlah kursi dapil Asahan I: Surat keputusan KPUD Kab. Asahan tahun 2008

Acuan Perhitungan:

UU No. 10 tahun 2008 tentang pemilu legislatif. Pasal 1 ayat (28)
UU No. 8 tahun 2012 tentang pemilu legislatif. Pasal 1 ayat (32) dengan redaksi yang sama:
Bilangan Pembagi Pemilihan bagi Kursi DPRD, selanjutnya disingkat BPP DPRD, adalah bilangan yang diperoleh dari pembagian jumlah suara sah dengan jumlah kursi di suatu daerah pemilihan untuk menentukan jumlah perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu dan terpilihnya anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota.”

UU No. 8 tahun 2012 tentang pemilu legislatif. Pasal 212 dan 
UU No. 10 tahun 2008 tentang pemilu legislatif. Pasal pasal 211 ayat 1-3 dan pasal 212 dengan redaksi yang masih sama:

  1. Setelah ditetapkan angka BPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 211 ayat (2), ditetapkan perolehan jumlah kursi tiap Partai Politik Peserta Pemilu di suatu daerah pemilihan, dengan ketentuan:
  2.  apabila jumlah suara sah suatu Partai Politik Peserta Pemilu sama dengan atau lebih besar dari BPP, maka dalam penghitungan tahap pertama diperoleh sejumlah kursi dengan kemungkinan terdapat sisa suara yang akan dihitung dalam penghitungan tahap kedua;
  3. apabila jumlah suara sah suatu Partai Politik Peserta Pemilu lebih kecil daripada BPP, maka dalam penghitungan tahap pertama tidak diperoleh kursi, dan jumlah suara sah tersebut dikategorikan sebagai sisa suara yang akan dihitung dalam penghitungan tahap kedua dalam hal masih terdapat sisa kursi di daerah pemilihan yang bersangkutan;
  4. penghitungan perolehan kursi tahap kedua dilakukan apabila masih terdapat sisa kursi yang belum terbagi dalam penghitungan tahap pertama, dengan cara membagikan jumlah sisa kursi yang belum terbagi kepada Partai Politik Peserta Pemilu satu demi satu berturut-turut sampai habis, dimulai dari Partai Politik Peserta Pemilu yang mempunyai sisa suara terbanyak.